Menkes Sebut TBC Jadi Sebab Utama Harapan Hidup WNI Rendah: 5 Menit, Meninggal 2

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menkes Budi Gunadi Sadikin memantau pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi siswa dan siswi di Pondok Pesantren Terpadu Khairul Ummah, Kapuk Muara, Jakarta, Kamis (13/8/2026 Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menkes Budi Gunadi Sadikin memantau pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi siswa dan siswi di Pondok Pesantren Terpadu Khairul Ummah, Kapuk Muara, Jakarta, Kamis (13/8/2026 Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (BGS) mengungkap salah satu penyebab usia harapan hidup masyarakat Indonesia masih lebih rendah dibandingkan negara maju. Menurutnya, penyakit menular seperti tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu penyebab utama kematian di Indonesia.

Hal itu disampaikan Budi saat menghadiri agenda skrining TBC dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) di pesantren dan permukiman padat penduduk di Jakarta Utara, Kamis (13/8).

Budi mengatakan rata-rata usia harapan hidup masyarakat Indonesia saat ini berada di kisaran 74 tahun. Pemerintah menargetkan angka tersebut dapat meningkat hingga setidaknya 76 tahun.

"Nah, kalau kita lihat kenapa orang Indonesia meninggalkannya lebih cepat dibandingkan orang di negara maju? Salah satu penyebab utama atau wafatnya orang Indonesia kalau penyakit menular itu adalah TBC," kata Budi.

Menurutnya, TBC menyebabkan sekitar 120 ribu kematian setiap tahun di Indonesia. Ia menggambarkan, dalam lima menit, dua orang meninggal dunia akibat TBC.

"Ini meninggalkannya setahun 120.000, Pak. Artinya saya ngomong 5 menit yang meninggal dua. Saya ngomong 10 menit yang meninggal empat," jelasnya.

Budi menyebut, TBC bahkan menjadi penyakit menular dengan jumlah kematian tertinggi di Indonesia, melampaui COVID-19.

"TBC ini kita sudah mau 81 tahun merdeka. Tetap meninggalkannya paling banyak, lebih banyak dari Covid, ini meninggalkannya setiap tahun," tegas Budi.

Ia menilai persoalan utama TBC bukan terletak pada ketersediaan obat. Sebab, penyakit tersebut telah memiliki pengobatan yang efektif. Persoalannya, banyak penderita tidak mengetahui bahwa dirinya terinfeksi karena terlambat atau belum menjalani skrining.

"Penyakit ini ribuan tahun sudah ada dan anehnya obatnya sudah ada. Obatnya ada dan manjur. Kalau minum obat pasti sembuh. Masalahnya adalah enggak ketahuan kalau dia sakit TBC karena skriningnya terlambat atau tidak dilakukan," ujar dia.

Karena itu, Kementerian Kesehatan mendorong peningkatan skrining untuk menemukan penderita TBC lebih awal. Budi berharap langkah tersebut dapat menekan angka kematian akibat TBC sekaligus meningkatkan usia harapan hidup masyarakat Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, dia juga mengatakan pemerintah tengah memperluas skrining TBC melalui fasilitas kesehatan tingkat pertama, termasuk dengan penggunaan perangkat rontgen berukuran kecil yang dilengkapi teknologi artificial intelligence (AI).

"Oleh karena itu, Bapak Presiden menginstruksikan untuk segera dicek melalui Cek Kesehatan Gratis, karena TB adalah bagian dari CKG. Kebetulan sekarang teknologi Rontgen (X-Ray) sudah maju. Rontgen ini adalah cara yang paling bagus untuk skrining TB, dan alat yang kita gunakan sudah memakai Artificial Intelligence (AI) sehingga hasilnya bisa langsung terlihat," tutur Budi.

"Alatnya juga kecil, bisa dibawa menggunakan motor. Nah, sekarang kita akan jalan dari pesantren ke pesantren untuk mencari penderita TB. Kalau diobati pasti sembuh kok dan tidak menular. Jadi teman-teman tidak usah takut, obatnya manjur. Rencananya kita akan masuk ke seluruh pondok pesantren di Indonesia agar bisa disingkirkan TB-nya, sehingga semua santrinya sehat, atas izin tokoh agama," tandasnya.