Menkes soal Dokter Internship Meninggal di Jaksel: Ada Masalah Kejiwaan

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memastikan, kematian dokter internship yang meninggal setelah jatuh dari lantai 18 Apartemen Kalibata City, Jaksel, tidak berkaitan dengan beban atau jam kerja yang berlebihan.
Menurut Budi, berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan, terdapat persoalan kesehatan jiwa yang berkaitan dengan kasus tersebut.
"Sudah, sudah. Sudah diperiksa, kemarin sudah ada press release-nya," kata Budi di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta Pusat, Rabu (29/7).
Saat ditanya apakah kematian dokter tersebut berkaitan dengan jam kerja yang panjang, Budi membantahnya.
"Itu bukan masalah jam kerja. Masalahnya karena ada masalah kejiwaan. Ada masalah kejiwaan," ujarnya.
Budi mengatakan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akan mempertegas pelaksanaan skrining kesehatan jiwa bagi tenaga kesehatan, termasuk peserta program internship, untuk mendeteksi risiko sejak dini.
"Jadi saya sudah minta, sebenarnya sudah minta, dan sudah ada aturannya. Kita akan pertegas semuanya harus dilakukan screening jiwa," jelasnya.
Menurut Budi, risiko bunuh diri dapat diketahui melalui hasil skrining kesehatan jiwa. Karena itu, ia menekankan pentingnya pelaksanaan skrining secara disiplin.
"Karena orang bunuh diri itu ketahuan dari hasil screening-nya. Itu yang disiplin itu yang harus dilakukan," ucap Budi.
Sebelumnya dokter muda bernama Siti Zahra Maghfira (SZM) meninggal pada Minggu (26/7) siang.
Korban lahir pada 2001, lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Korban sedang magang/internship di sebuah RS di Cisalak, Bogor.
Polisi masih menyelidiki penyebab pasti korban nekat mengakhiri hidupnya.
