Menkes soal Dokter PPDS RSUP Sardjito Dipukul Keluarga Pasien: Jangan Emosian

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menkes Budi Gunadi Sadikin menjawab pertanyaan wartawan usai  MoU Signing Ceremony Parthera dan Pathgen di Jakarta, Senin (12/5/2025). Foto: Alya Zahra/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menkes Budi Gunadi Sadikin menjawab pertanyaan wartawan usai MoU Signing Ceremony Parthera dan Pathgen di Jakarta, Senin (12/5/2025). Foto: Alya Zahra/kumparan

Seorang dokter laki-laki yang sedang menempuh Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) atau dokter residen anestesi di RSUP Dr Sardjito berinisial EN diduga jadi korban pemukulan oleh anak pasien.

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin pun telah memantau kasus ini. Ia menekankan pentingnya mengelola emosi.

“Ya, saya udah monitor. Saya bilang, aduh ini rakyat Indonesia jangan cepat-cepat emosi, cepat marah gitu ya. Dokter itu kan melayani kita. Ya kalau toh pun kesel, itu kan ada tata kramanya, nyampeinnya ke rumah sakit,” jelas Budi saat ditemui di Balai Kota, Gambir, Jakarta Pusat, Senin (25/8).

Menkes menambahkan, semua harus diselesaikan dengan kepala dingin. Jangan membudayakan kekerasan.

“Jangan kemudian langsung berperilaku kasar, itu kan bukan budaya Indonesia. Apalagi ini keluarga juga nih. Aku dengar seorang tenaga medis juga kan. Keluarga dokter juga. Jadi harusnya jangan gitu,” tambahnya.

Budi menekankan pentingnya menghormati profesionalisme tenaga medis dan dokter yang bekerja untuk menyelamatkan nyawa pasien.

“Kita harus menghormati profesionalisme tenaga-tenaga medis dan dokter yang bekerja untuk menyelamatkan,” tambahnya.

Manajer Hukum dan Humas RSUP Dr Sardjito Banu Hermawan. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Penjelasan RSUP Dr Sardjito

Manajer Hukum dan Humas RSUP Dr Sardjito Banu Hermawan menjelaskan, saat itu UGD RSUP Dr Sardjito menerima pasien dalam kondisi kritis pada Jumat (22/8), rujukan dari Rumah Sakit Soerojo, Magelang, Jawa Tengah.

Saat datang, pasien sudah menderita pendarahan lambung. Pasien diinformasikan sudah sempat henti jantung di rumah sakit sebelumnya.

Tujuan rujukan salah satunya adalah tindakan endoskopi melihat kondisi organ dalam. Prosedur di Sardjito harus memperbaiki kondisinya dahulu tidak bisa langsung endoskopi. Fase kritikal harus ditangani dahulu.

"Malam itu, ternyata kondisinya makin buruk. Kita sudah berupaya maksimal sesuai dengan prosedur di bawah pengawasan dokter anestesi yang ketat ternyata beliau tidak bisa tertolong dan meninggal (pada Sabtu pagi)," kata dia di kantornya, Senin (25/8).

Saat itu dokter PPDS ada dua, selain EN ada satu dokter PPDS perempuan. Tapi yang mengalami kekerasan hanya EN saja.

"Dia yang terkena kontak fisik tersebut," katanya.

EN mendapatkan pukulan tetapi dia bisa menangkis dengan lengannya. Usai kejadian EN pun sempat visum.

"Memang dipukul, begitu. Kemudian karena yang mukul cewek dia sendiri mau jatuh. Nah residen kami sempat memegangi supaya dia (pelaku) nggak jatuh," katanya.

Pelaku sudah meminta maaf. EN menyatakan menerima permintaan maaf pelaku dan persoalan ini sudah selesai. EN saat ini juga tengah fokus agar pendidikannya selesai.

"Ini tetap kita hormati tetapi mereka (korban) tetap dalam perlindungan kami," ucap Banu.