Menkes Soroti Belanja Kesehatan RI yang Besar tapi Masih Bergantung pada Impor

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyoroti besarnya belanja kesehatan Indonesia yang dinilai belum optimal mendorong pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja di dalam negeri. Menurut dia, sebagian besar kebutuhan sektor kesehatan masih dipenuhi melalui produk impor sehingga manfaat ekonominya turut mengalir ke negara lain.
Budi mengatakan belanja kesehatan Indonesia mencapai sekitar 40 miliar dolar AS per tahun. Ia menyebut pertumbuhan belanja tersebut secara historis berada di kisaran 9-11% dalam satu dekade terakhir.
Namun, besarnya belanja itu belum sepenuhnya tercermin dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Budi menilai kondisi tersebut terjadi karena sebagian produk dan kebutuhan kesehatan yang dibeli Indonesia berasal dari luar negeri.
“Sebagian besar pertumbuhan PDB dan pertumbuhan lapangan kerja tidak terjadi di Indonesia. Sebagian besar yang kita beli diimpor dari luar negeri,” kata Budi dalam paparannya.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut membuat pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja dari belanja kesehatan tidak sepenuhnya dinikmati oleh Indonesia.
“Jadi pertumbuhan PDB tidak menetes dari belanja itu, tetapi mengalir ke negara lain, begitu juga pertumbuhan lapangan kerjanya,” ujarnya.
Budi mengatakan pemerintah berupaya mendorong investasi di sektor kesehatan agar Indonesia dapat membangun kemampuan manufaktur di dalam negeri. Upaya tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) untuk menarik investasi dari luar negeri.
Menurut dia, investasi tersebut diharapkan dapat memperkuat kapasitas produksi nasional, meningkatkan kontribusi sektor kesehatan terhadap produk domestik bruto (PDB), serta menciptakan lapangan kerja.
“Karena itu kami bekerja sama dengan Kadin untuk membawa investasi dari luar Indonesia agar masuk ke Indonesia, sehingga kita bisa membangun kemampuan manufaktur, menciptakan pertumbuhan PDB lokal, dan juga lapangan kerja, yang sangat penting di negara ini,” kata Budi.
Ia juga menilai sektor kesehatan memiliki potensi ekonomi yang besar seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan medis dan teknologi kesehatan.
Budi membandingkan pengeluaran kesehatan per kapita Indonesia dengan Malaysia dan Singapura. Ia menyebut Indonesia membelanjakan sekitar 120-130 dolar AS per orang per tahun, sedangkan Malaysia sekitar 430 dolar AS dan Singapura sekitar 3.300 dolar AS.
Menurut Budi, perbedaan tersebut menunjukkan besarnya ruang pertumbuhan belanja kesehatan Indonesia apabila kualitas dan akses layanan kesehatan meningkat.
Ia memperkirakan, apabila pengeluaran kesehatan per kapita Indonesia dapat menyamai Malaysia dalam lima tahun ke depan, terdapat potensi tambahan belanja kesehatan sekitar 84 miliar dolar AS.
Sementara itu, jika Indonesia dapat mencapai tingkat pengeluaran per kapita seperti Singapura dalam 10-15 tahun mendatang, Budi menyebut potensi tambahan belanja kesehatan dapat mencapai sekitar 840 miliar dolar AS per tahun.
Besarnya potensi tersebut, menurut dia, menjadi peluang bagi pelaku usaha untuk berinvestasi di sektor kesehatan Indonesia.
Meski demikian, peningkatan belanja kesehatan perlu diikuti penguatan industri dalam negeri agar pertumbuhan permintaan tidak hanya meningkatkan impor, tetapi juga mendorong produksi nasional, transfer teknologi, dan penciptaan lapangan kerja.
Dengan demikian, pengembangan industri kesehatan menjadi salah satu tantangan penting bagi Indonesia untuk memaksimalkan manfaat ekonomi dari meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan masyarakat.
Reporter: Nabilah Siti Nurhikmah
