Menkes: Tabung Oksigen Harus Diganti Lebih Cepat, Kebutuhan di RS Makin Banyak
·waktu baca 2 menit

Menkes Budi Gunadi Sadikin menjawab isu sejumlah rumah sakit di Indonesia kekurangan oksigen untuk pasien corona. Ia mengatakan, di rumah sakit besar, oksigen itu ditaruh di tabung besar dan tak berpindah posisinya.
"Tapi rumah sakit-rumah sakit yang lebih kecil itu ada tabung gas kecil. Nah, ada isu ini tadi kita lihat bukan masalah jumlahnya yang kurang, tapi kalau ada peningkatan yang tinggi sehingga perputaran tabungnya itu mesti dijaga," kata Budi dalam jumpa pers virtual di Youtube Kemenkes, Jumat (25/6).
Ia mengibaratkan tabung oksigen dengan elpiji di rumah tangga yang mesti diatur ketersediaannya, apabila kasus corona terus melonjak.
"Sama seperti kita punya tabung elpiji. Misalnya di rumah kita punya dua tabung, kalau misalnya sebelumnya sebulan sekali diganti, karena sekarang penggunaannya lebih sering, ya, mungkin seminggu sekali diganti atau tiga hari sekali diganti," jelasnya.
"Nah, isinya adalah banyak yang besar tabungnya supaya enggak terlalu sering. Katanya pengin nambah 4 tabung, kita bilang nggak perlu," imbuh dia.
Maksud Menkes, tidak perlu ditambah tabungnya, melainkan dipercepat pengisiannya. Jadi, pasien tetap tak kekurangan oksigen.
"Enggak perlu walaupun jumlah pemakaiannya lebih banyak nggak usah dari 2 dibikin jadi 4 atau 8. Tapi lebih sering diisi menjadi 2 hari sekali atau juga jadi seminggu sekali," tutup dia.
Isu tabung oksigen habis sudah mencuat di sejumlah daerah. Seperti di Yogyakarta dan sejumlah daerah di Jawa Tengah. Bahkan ada kabar beberapa RS di Jakarta sudah mulai kekurangan oksigen.
