Menkes Targetkan USG hingga X-Ray Tersedia di 10.000 Puskesmas RI
·waktu baca 3 menit

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menargetkan sejumlah peralatan medis dapat didistribusikan ke 10.000 puskesmas di seluruh Indonesia, mulai dari USG, X-ray, EKG, hingga obat trombolisis untuk penanganan serangan jantung.
Budi menjelaskan, langkah itu didorong oleh tingginya beban penyakit masyarakat yang tidak mungkin seluruhnya ditampung di rumah sakit. Dari hasil cek kesehatan gratis (CKG) yang tengah berjalan, data menunjukkan jutaan warga mengidap penyakit yang belum tertangani.
“Begitu cek kesehatan gratis kita lakukan, kelihatan sekali bahwa beban masyarakat kita yang tidak sehat itu angkanya jutaan keluar. Misalnya darah tinggi ya itu berapa tuh? 7 juta hampir 8 juta. Ini datanya belum semua masuk dan kita baru mereview kemarin kan 42 juta data,” kata Budi dalam Rapat Kerja bersama Komisi IX DPR RI dan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (8/6/2026).
Kondisi itu, kata Budi, tidak mungkin diselesaikan jika semua pasien didorong masuk ke rumah sakit. Ia merujuk pada prinsip yang berlaku di hampir seluruh dunia, bahwa 80 persen masalah kesehatan seharusnya bisa diselesaikan di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) seperti puskesmas.
“Jadi bener-bener rumah sakit dan spesialis itu menampung 20 persen saja yang bermasalah karena enggak mungkin kapasitasnya cukup baik dari rumah sakit maupun dari SDM-nya,” ujarnya.
Untuk itu, Kemenkes mendorong pengadaan peralatan medis yang selama ini hanya tersedia di rumah sakit agar bisa digunakan di puskesmas. USG menjadi salah satu yang sudah lebih dulu diturunkan, dan kini penggunaannya diperluas.
“USG yang dulu dilakukan di rumah sakit sekarang dilakukan di Puskesmas. Dulu hanya bisa untuk wanita hamil, sekarang kita sedang masukkan juga untuk skrining kanker payudara. Kita lihat juga masalah penyakit hati ini besar ya, sirosis, kemudian kanker hati, fibrosis itu sebenarnya juga bisa dengan USG. Jadi kita akan lebih banyak lagi fasilitas kesehatan kita kirim ke Puskesmas,” kata Budi.
Untuk X-ray, Kemenkes menargetkan distribusi ke 10.000 puskesmas dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Budi menyebut alat ini tidak hanya berguna untuk deteksi tuberkulosis, tapi juga untuk masalah tulang dan penyakit dalam.
Budi menambahkan, EKG (Elektrokardiogram) juga akan didistribusikan ke puskesmas untuk mendeteksi serangan jantung lebih dini. Selain itu, Kemenkes berencana menurunkan layanan trombolisis yakni, penanganan darurat serangan jantung, ke level puskesmas dengan mengubah sediaan obatnya agar lebih praktis digunakan.
“EKG kita akan bagikan supaya kalau ada serangan jantung itu bisa dideteksi lebih dini STEMI-nya. Dan kita akan dorong layanan seperti trombolisis itu diturunkan ke Puskesmas ya dengan mengubah sediaannya dari streptokinase pakai tenecteplase jadi tinggal sekali injeksi aja sehingga kalau ada serangan jantung itu bisa ditangani di Puskesmas,” katanya.
Budi menegaskan, pergeseran kompetensi ini sejalan dengan upaya menggeser fokus layanan kesehatan dari pengobatan menuju pencegahan penyakit.
“Pergeseran dari kompetensi-kompetensi layanan ini ke layanan primer karena melihat dari beban penyakit yang demikian banyak sehingga tidak memberikan pressure ke rumah sakit, itu membutuhkan juga peningkatan kompetensi dari dokter-dokternya. Sehingga dokter umum yang sekarang relatif sedikit kompetensinya itu akan kita perkaya supaya bisa melayani memberikan akses ke puluhan juta masyarakat kita yang memiliki masalah,” pungkasnya.
