Menkes: Varian Baru Corona di Luar Kemampuan Kita, Mencegahnya Sulit

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menkes Budi Gunadi Sadikin memperlihatkan vaksin COVID-19 Astrazeneca saat vaksinasi kepada kyai Nahdlatul Ulama (NU) di Kantor PWNU Jatim di Surabaya. Foto: Moch Asim/Antara Foto
zoom-in-whitePerbesar
Menkes Budi Gunadi Sadikin memperlihatkan vaksin COVID-19 Astrazeneca saat vaksinasi kepada kyai Nahdlatul Ulama (NU) di Kantor PWNU Jatim di Surabaya. Foto: Moch Asim/Antara Foto

Penerapan PPKM di Jawa dan Bali sejak Juli lalu telah menghasilkan tren penurunan pada kasus konfirmasi corona. Hal ini tentu patut untuk disyukuri namun juga tak membuat masyarakat menjadi kehilangan kewaspadaan terhadap ancaman lonjakan kasus di masa depan akibat munculnya varian baru.

Dalam keterangan yang disampaikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin terkait penerapan PPKM, dia mengatakan bahwa mutasi virus merupakan suatu yang tak bisa dihindari oleh siapa pun. Termasuk varian Delta yang telah menyebabkan lonjakan kasus di Indonesia dan di negara lain-lain.

"ini yang di luar kontrol, hampir semua negara yang kenaikan tinggi termasuk Indonesia disebabkan dengan karena adanya mutasi baru varian Delta yang sekarang sudah hampir tersebar di seluruh dunia," jelas Budi pada Senin (30/8) malam.

Terkait upaya antisipasi terhadap pendeteksian varian baru, Budi mengatakan kini Indonesia telah meningkatkan kapasitas genome sequencing hingga 1.800 tes setiap bulannya. Hal ini juga yang akan terus dimaksimalkan agar kemungkinan varian baru yang lebih ganas bisa diatasi lebih awal.

"Sekarang dalam waktu 8 bulan kita sudah melakukan 5.788 tes. Sehingga kita punya kapasitas 1700-1800 tes per bulan yang kita akan maksimalkan untuk bisa monitoring seperti apa penyebaran varian baru ini dan bagaimana kita mengantisipasi," jelasnya.

Untuk itu, Budi menambahkan bahwa kemunculan varian baru corona ini akan sulit untuk ditebak. Terlebih jika vaksinasi di suatu daerah terbilang lambat, maka itu akan meningkatkan kemungkinan virus bermutasi.

"Ini yang sulit ditebak karena semakin lama dunia menunda vaksinasi pasti di suatu daerah terjadi penularan dan varian baru timbul," tambah Budi.

Sehingga, hal yang kini menjadi perhatian yaitu bagaimana pemerintah dapat bereaksi atau melakukan tindakan lanjutan. Tentu ini dapat diupayakan dengan adanya pemeriksaan atau sequencing yang lebih dimaksimalkan lagi.

"Memang sulitnya varian baru ini di luar kemampuan kita untuk mencegah agak tidak mudah. Yang penting bagaimana kita bisa bereaksi," pungkasnya.