Menkeu soal Rencana Rekrut Rektor Asing: Terbuka pada Pemikiran Baru

Menteri Keuangan Sri Mulyani ikut bicara perihal wacana Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi merekrut rektor asing untuk memimpin perguruan tinggi. Sri Mulyani menyebut rencana itu memang sedang dimatangkan.
"Pengelolaan universitas menggunakan rektor dari dalam ataupun luar negeri, masih kami pelajari," ucap Sri Mulyani usai menghadiri acara Dies Natalis ke-38 Universitas PGRI Semarang (Upgris), Selasa (23/7).
Sri setuju mengundang akademisi asing sebagai rektor di Indonesia, karena itu berarti perguruan tinggi di Indonesia berpikiran terbuka.
"Harus terbuka terhadap pemikiran baru maupun praktik yang sudah menghasilkan output yang baik. Itu adalah bagian dari proses belajar yang tadi saya sampaikan, long life learning," ungkap Sri Mulyani.
Saat ini kebijakan tersebut masih dipersiapkan oleh Kemenristekdikti. Nantinya anggaran tidak dibebankan ke perguruan tinggi tapi memakai dana dari pemerintah pusat, melalui Kemenkeu.
Sebelumnya diberitakan Menristekdikti M Nasir berencana pada 2020 perguruan tinggi di Indonesia menggunakan rektor asing. Nasir mengungkapkan, saat ini nyaris semua perguruan tinggi di Indonesia tak memiliki daya saing di dunia.
Nasir mencatat, dari total 4.700 perguruan tinggi di Indonesia, hanya tiga perguruan tinggi yang memiliki daya saing dunia.
"Itu ngeri sekali. Bahkan saat saya pertama kali menjabat, cuma dua perguruan tinggi yang punya daya saing, yakni di ranking 400 dunia," ungkap Nasir saat ditemui di Universitas Stikubank (Unisbank) Semarang, Senin (22/7) kemarin.
Menurut Nasir, salah satu jebloknya peringkat perguruan tinggi Indonesia di dunia adalah karena tidak adanya rektor dari luar negeri, dan juga masih terlalu sedikitnya dosen-dosen luar negeri yang masuk mengajar di Indonesia.
Padahal idealnya, untuk mampu mengejar negara-negara berpendidikan maju, kuota dosen asing mencapai 40 persen di setiap kampus.
