Menko PMK: Screen Time Orang RI Capai 7,5 Jam Per Hari, Bikin Berpikir Pendek

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno usai pengukuhan Anggito Abimanyu sebagai guru besar Universitas Gadjah Mada (UGM), Selasa (4/2/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno usai pengukuhan Anggito Abimanyu sebagai guru besar Universitas Gadjah Mada (UGM), Selasa (4/2/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menyoroti data yang menunjukkan rata-rata screen time masyarakat Indonesia kini mencapai lebih dari 7,5 jam per hari. Ini rupanya berdampak pada pola pikir orang saat ini.

“Screen time orang Indonesia lebih dari 7,5 jam perhari. Artinya ada orang yang membuka screen lebih dari belasan jam di setiap harinya,” kata Pratikno dalam sambutan di KolaborAKSI untuk Keluarga jelang Peringatan Hari Keluarga Nasional, di Jakarta, Selasa (17/6).

Menurutnya, screen time atau paparan layar sejak dini juga semakin umum terjadi. Bahkan anak-anak di bawah usia dua tahun sudah mulai terekspos teknologi terutama dan internet dan media sosial.

Salah satu kekhawatiran utama Pratikno, yakni kebiasaan scrolling di media sosial yang disebutnya dapat merusak pola pikir generasi muda.

Ilustrasi remaja bermain sosial media. Foto: Rawpixel.com/Shutterstock

Pratikno menyebut, fenomena ini membuat orang terbiasa mengambil keputusan secara cepat dan dangkal, tanpa proses berpikir yang matang atau mindless scrolling.

“Kita harus hati-hati scrolling. Scrolling itu membuat tradisi berpikir yang sangat pendek, menjadi mindless scrolling,” kata Pratikno.

“Karena mengambil putusan dalam durasi kurang dari 20 detik menjadi terbiasa mindless. Nah ini kan berbahaya,” tambah mantan Mensesneg itu.

Ilustrasi bermain sosial media. Foto: photobyphotoboy/Shutterstock

Pratikno menilai, meski teknologi sangat membantu kehidupan, penggunaannya tetap harus diarahkan dengan bijak. Pemerintah, lanjutnya, tengah mendorong panduan pemanfaatan teknologi dan AI secara cerdas dan manusiawi.

“Jadi makanya kami pemerintah mengkampanyekan sebuah panduan yang kita sebut sebagai pijakan cerdas berdigital, bijak dan cerdas ber-AI, menggunakan kecerdasan buatan. Tidak mungkin manusia Indonesia tanpa teknologi mengalahkan orang yang dengan teknologi. Tidak mungkin orang tanpa digital bisa mengalahkan orang dengan digital. Tidak mungkin orang tanpa AI bisa mengalahkan orang dengan AI,” pungkasnya.