Menko Polkam: Bandar Narkoba Sasar RI, Kondisi Geografi Jadi Celah Penyelundupan

Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Jenderal TNI (Purn), Djamari Chaniago, menyebut Indonesia menjadi salah satu sasaran utama jaringan narkotika internasional karena memiliki pasar yang besar.
Kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan dinilai memberikan celah bagi sindikat untuk menyelundupkan narkotika.
Menurutnya, persoalan narkotika global kini memasuki fase yang semakin kompleks. Sindikat internasional tidak lagi hanya mengandalkan jalur penyelundupan konvensional, tetapi juga memanfaatkan teknologi digital, media sosial, hingga jaringan lintas negara yang semakin canggih.
"Sebagaimana ditegaskan oleh UNODC melalui tema globalnya tahun ini, permasalahan narkotika internasional telah memasuki fase baru yang kian kompleks. Jaringan sindikat internasional kini memanfaatkan teknologi digital, media sosial, dan penyelundupan canggih," kata Djamari dalam sambutannya di acara Hari Anti Narkotika Nasional, di Balai Besar Rehabilitasi BNN, Cigombong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (23/7).
"Mereka menyasar negara kita karena mereka tahu Indonesia adalah pasar yang cukup besar," sambungnya.
Ia mengatakan pemerintah tidak boleh menutup mata terhadap ancaman tersebut. Berdasarkan survei nasional prevalensi penyalahgunaan narkotika yang dilakukan Badan Narkotika Nasional (BNN) bersama Badan Pusat Statistik (BPS) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), angka prevalensi penyalahgunaan narkotika pada 2025 meningkat menjadi 2,11 persen atau setara sekitar 4,15 juta penduduk.
Peningkatan tersebut menunjukkan perkembangan modus kejahatan narkotika bergerak lebih cepat dibandingkan upaya penanggulangannya karena mengikuti kemajuan teknologi.
Fakta ini menjadi peringatan keras bahwa meskipun berbagai langkah pencegahan, pemberantasan, rehabilitasi, dan pemberdayaan masyarakat telah kita lakukan, perkembangan modus kejahatan narkotika jauh lebih cepat mengikuti kemajuan teknologi," kata Djamari.
Ancaman tersebut kian membesar didukung oleh posisi geografis Indonesia yang strategis dan rentan dimanfaatkan jaringan narkotika internasional. Menurutnya letak Indonesia yang berada di persilangan dua benua dan samudra menjadi tantangan serius bagi aparat penegak hukum.
"Saya menyadari betapa besarnya tantangan yang kita hadapi dalam pemberantasan narkotika ini, ditambah lagi dengan posisi Indonesia secara geografis yang berada pada persilangan dua benua dan dua samudra, memiliki ribuan pulau dan garis pantai yang sangat panjang, serta banyak pintu masuk melalui jalur laut, udara, darat," kata Djamari.
Di satu sisi, kondisi tersebut memberikan keuntungan strategis dari sisi perdagangan dan konektivitas. Di sisi lain, situasi tersebut juga banyak dimanfaatkan sindikat Internasional untuk menyelundupkan narkotika ke berbagai daerah.
"Kondisi geografis yang memang memberikan keunggulan strategis bagi Indonesia, namun pada saat yang sama juga membuka banyak celah yang bisa dimanfaatkan oleh jaringan kejahatan narkotika internasional untuk menyelundupkan dan mendistribusikan narkotika ke berbagai daerah," ungkap Djamari.
Karena itu, Djamari meminta seluruh kementerian, lembaga, pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dunia pendidikan, dunia usaha, hingga masyarakat memperkuat kolaborasi agar Indonesia mampu membalikkan tren peningkatan penyalahgunaan narkotika sekaligus melindungi generasi muda dari ancaman peredaran gelap narkoba.
"Kita harus memperkuat kolaborasi seluruh kementerian, lembaga, pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dunia pendidikan, dunia usaha, serta seluruh elemen masyarakat agar Indonesia mampu kembali membalikkan tren peningkatan tersebut dan melindungi generasi penerus bangsa dari ancaman narkotika," kata Djamari.
