MenkopUKM: Perkembangan Koperasi Ideal Sebaiknya Merujuk ke Pemikiran Bung Hatta

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

clock
google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki. Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki. Foto: kumparan

Sebagai Bapak Koperasi Indonesia, Bung Hatta memiliki banyak gagasan yang bisa dikaji dengan perkembangan koperasi saat ini. Pemikiran Bung Hatta memberi wawasan berharga mengenai idealnya koperasi dibangun dan dikembangkan.

Hal itu diungkapkan Menteri Koperasi dan UKM (MenkopUKM) Teten Masduki pada acara webinar Bedah Buku Karya Lengkap Bung Hatta "Gerakan Koperasi dan Perekonomian Rakyat" yang diselenggarakan Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), Senin (12/7).

Menurut Teten, tulisan Bung Hatta banyak membahas tentang individualitas dan solidaritas, sebagai esensi dari koperasi. Yakni, upaya bagi individu memberdayakan dirinya sendiri melalui kerja sama (berko-operasi), dan memiliki solidaritas tinggi antara satu dengan yang lain.

"Koperasi memiliki karakteristik khas sebagai suatu sistem nilai, falsafah, dan organisasi yang bekerja untuk mewujudkan kesejahteraan bagi anggotanya meskipun banyak permasalahan yang timbul, baik dari sisi tata kelola organisasi, usaha, ataupun bisnis," papar MenkopUKM.

Bagi Teten, pemikiran Bung Hatta menekankan bahwa koperasi berperan sebagai lembaga ekonomi sekaligus lembaga pendidikan, misalnya terkait pendidikan antikorupsi bagi para anggota.

"Semangat berkoperasi ditranslasikan sebagai bentuk resistensi terhadap praktik individualisme dan kapitalisme. Dalam usaha koperasi, prinsip kekeluargaan dan gotong royong menjadi dasar guna mencapai kesejahteraan bersama," lanjutnya.

Namun, seiring waktu, Teten mengakui bahwa banyak permasalahan yang dihadapi koperasi sehingga cita-cita untuk mewujudkan koperasi sebagai sokoguru ekonomi Indonesia belum tercapai. Karena koperasi belum sepenuhnya menjadi pilihan utama kelembagaan ekonomi rakyat.

Partisipasi masyarakat Indonesia untuk menjadi anggota koperasi memang masih rendah, hanya sebesar 8,41 persen. Angka itu masih di bawah rata-rata dunia yang mencapai 16,31 persen.

Meskipun ada juga daerah yang tingkat partisipasinya tinggi seperti di Provinsi NTT dan Kalimantan Barat.

"Saya ingin mengajak LP3ES untuk meneliti mengapa di Provinsi NTT dan Kalimantan Barat tingkat keinginan masyarakat untuk berkoperasi cukup tinggi," ulas MenkopUKM.

Webinar Bedah Buku Karya Lengkap Bung Hatta "Gerakan Koperasi dan Perekonomian Rakyat" yang diselenggarakan Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), Senin (12/7). Foto: dok. Kemenkop dan UKM

Teten pun mencontohkan banyak koperasi yang sukses yang menjadi lembaga usaha dan entitas sosial bagi anggotanya. Di antaranya adalah Koperasi Produsen Baitul Qiradh Baburrayyan, yang menguasai pasar ekspor 345,6 ton Kopi Arabica Gayo ke pasar Amerika Serikat dan Eropa.

"Ini satu-satunya koperasi yang memiliki akses penjualan kopi langsung ke Starbucks," ucap Teten.

Koperasi sukses lainnya adalah Koperasi Telekomunikasi Seluler (Kisel) yang pada 2018 menduduki peringkat 94 dari 300 koperasi besar dunia. Kisel dapat menjadi prototype koperasi modern dengan diversifikasi usaha tinggi dan memiliki 5 anak usaha berbentuk Perseroan Terbatas (PT) yang bergerak di bidang penyaluran tenaga outsourcing, MICE, office support, infrastruktur, telekomunikasi, dan digital business solution.

Ada juga Koperasi Benteng Mikro Indonesia yang tidak hanya sukses membesarkan bisnis/usaha, namun juga memberikan kontribusi sosial yang besar melalui program Hibah Rumah Siap Huni (HRSH). Dari tahun 2015 hingga akhir Maret 2021 sebanyak 293 rumah diserahkan kepada anggota dan non anggota.

Oleh sebab itu, edukasi mengenai peningkatan partisipasi anggota, indeks pembangunan manusia, dan ekosistem usaha yang mendukung perlu disebarkan agar koperasi menjadi lembaga usaha pilihan masyarakat.

Teten juga menegaskan bahwa upaya rebranding koperasi sebagai entitas bisnis yang modern, kontributif, dan kompetitif, terus dilakukan melalui beberapa strategi pengembangan koperasi.

Misal, pengembangan model bisnis koperasi melalui korporatisasi pangan, pengembangan Factory Sharing dengan kemitraan terbuka agar terhubung dalam rantai pasok, hingga pengembangan Koperasi Multi Pihak.

“Penguatan kelembagaan dan usaha anggota koperasi melalui strategi amalgamasi atau spin off dan split off," jelas Teten.

Di samping itu, pengembangan korporatisasi pangan melalui koperasi (arahan Presiden dalam Rapat Terbatas tanggal 10 Desember 2019) bersinergi dengan K/L, Pemerintah Daerah, mitra, dan stakeholders lainnya untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.

Teten menambahkan, beberapa program korporatisasi melalui koperasi yang sedang dikembangkan antara lain pengembangan komoditas kacang koro di Sumedang, sayur-mayur dan buah-buahan di Ciwidey, Bandung (Jawa Barat).

Kemudian, komoditas pisang di Tanggamus (Lampung), Bener Meriah (Aceh), Lumajang (Jawa Timur), dan Garut (Jawa Barat) yang bekerja sama dengan Kementerian Pertanian, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Pemerintah Daerah, dan PT Great Giant Pineapple.

Begitu juga dengan pengembangan komoditas udang Vaname di Muara Gembong, Bekasi (Jawa Barat) dan udang Windu di Pinrang (Sulawesi Selatan) yang bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Lebih lanjut, pengembangan peternakan sapi perah dan susu di Batu, Malang (Jawa Timur) dan Pengalengan, Bandung (Jawa Barat) bekerja sama dengan K/L dan Industri Pengolahan Susu (IPS).

"Selain itu, ada pengembangan komoditas ayam dan telur yang bekerja sama dengan Kementerian Pertanian. Perlu dilakukan pengembangan industri peternakan melalui koperasi di wilayah-wilayah dengan kasus stunting tinggi," imbuh MenkopUKM.

Teten pun meyakini, dengan membaca buah pemikiran Bung Hatta, kita dapat memperoleh inspirasi dan wawasan pengembangan koperasi yang sesuai dengan pemikiran dan semangat awalnya.

Artikel ini merupakan bentuk kerja sama dengan Kementerian Koperasi dan UKM RI