Menlu AS Ancam Akan Ubah Sistem Komunis di Kuba

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio berbicara dalam konferensi pers di Ruang Briefing Pers James S. Brady di Gedung Putih, Washington, D.C., Amerika Serikat (5/5/2026). Foto: Kylie Cooper/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio berbicara dalam konferensi pers di Ruang Briefing Pers James S. Brady di Gedung Putih, Washington, D.C., Amerika Serikat (5/5/2026). Foto: Kylie Cooper/REUTERS

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memperingatkan Kuba bahwa negaranya fokus untuk mengubah sistem komunis di sana. Ancaman itu disampaikan usai AS mendakwa eks Presiden Kuba Raúl Castro dengan tuduhan pembunuhan.

Saat ini militer AS telah mengumumkan bahwa kapal induk USS Nimitz dan sejumlah kapal perang bergerak ke kawasan Karibia, tempat Kuba berada.

Rubio, pria keturunan Kuba dan kritikus tajam komunisme, menyebut negara leluhurnya itu sebagai negara gagal akibat krisis ekonomi yang sedang menerpa.

“Sistem ekonomi mereka tidak berfungsi. Sistem itu rusak, dan Anda tidak dapat memperbaikinya dengan sistem politik yang ada saat ini," kata Rubio pada Kamis (21/5) seperti dikutip dari AFP.

"Apa yang telah mereka biasakan selama bertahun-tahun hanyalah mengulur waktu dan menunggu kita. Mereka tidak akan bisa menunggu kita atau mengulur waktu. Kami sangat serius. Kami sangat fokus,” sambung dia.

Rubio kemudian menyebut AS sebenarnya selalu mengedepankan solusi diplomatik. Namun, kata Rubio, di era Presiden Donald Trump negaranya memiliki banyak opsi yang bisa digunakan.

Mantan Presiden Kuba Raul Castro mengibarkan bendera nasional Kuba dalam peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) di Alun-Alun Revolusi Havana, Kuba (1/5/2025). Foto: Yamil Lage/AFP

Sebelum melontarkan ancaman tersebut, kejaksaan AS mendakwa Raúl Castro terkait kasus penembakan dua pesawat sipil yang dikemudikan pilot anti-Castro pada 1996 lalu.

Merespons dakwaan itu, Pemerintah Kuba menyerukan agar warganya menggelar demonstrasi di luar Kedutaan Besar AS di Havana. Mereka juga menyebut dakwaan tersebut sebagai tindakan keji.