Menlu AS Bertolak ke Doha, Bujuk Qatar Tetap Jadi Mediator Gencatan Senjata Gaza

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan istrinya Jeanette Dousdebes Rubio selama kunjungan mereka ke Terowongan Tembok Barat, di bawah situs suci Yahudi, di kota tua Yerusalem, Minggu (14/9/2025). Foto: NATHAN HOWARD/POOL/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan istrinya Jeanette Dousdebes Rubio selama kunjungan mereka ke Terowongan Tembok Barat, di bawah situs suci Yahudi, di kota tua Yerusalem, Minggu (14/9/2025). Foto: NATHAN HOWARD/POOL/AFP

Menlu AS Marco Rubio berharap agar Qatar tetap menjadi mediator untuk perundingan gencatan senjata Israel-Hamas. Hal ini disampaikan Rubio saat hendak berangkat ke Qatar.

"Kami akan meminta Qatar untuk tetap melakukan apa yang telah dilakukan, dan kami sangat menghargainya, yaitu memainkan perang konstruktif dalam upaya mengakhiri ini," kaya Rubio kepada wartawan sesaat sebelum lepas landas dari bandara Ben Gurion, Tel Aviv, Selasa (16/9), dikutip dari AFP.

"Jelas mereka harus memutuskan apakah mereka mau melakukan [tetap menjadi negosiator --red] setelah apa yang terjadi pekan lalu atau tidak, tapi kami ingin mereka tahu jika ada negara mana pun di dunia yang dapat mengakhiri ini semua [serangan Israel di Gaza --red] lewat negosiasi, negara itu adalah Qatar," lanjutnya.

Rubio mengatakan Amerika Serikat akan bekerja bersama Qatar untuk segera menyelesaikan perjanjian pertahanan segera meskipun ada operasi militer Israel.

Sebelumnya, Presiden Donald Trump mengatakan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tidak akan menyerang Qatar lagi. Namun, Rubio tidak menyinggung itu di Israel.

Selama berada di Israel bersama Netanyahu, Rubio enggan memuji Qatar dan hanya menyatakan penting untuk melihat ke depan setelah serangan.

Juru bicara Kemlu Tommy Pigott juga mengatakan bahwa Rubio di Doha akan menegaskan kembali dukungan penuh AS untuk keamanan dan kedaulatan Qatar usai serangan Israel.

Qatar menjadi pusat diplomasi sebagai penengah untuk mengakhiri operasi militer Israel di Gaza selama hampir tahun. Terlepas dari itu, Israel tetap menyerang Qatar dengan menargetkan pejabat tinggi Hamas yang berkumpul di sana untuk mendiskusikan proposal gencatan senjata baru dari AS.