Menlu China Bakal Melawat ke Myanmar Jelang Pertemuan SCO, Bahas Apa?

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Dubes China untuk Amerika Serikat Qin Gang. Foto: CNS / AFP
zoom-in-whitePerbesar
Dubes China untuk Amerika Serikat Qin Gang. Foto: CNS / AFP

Menteri Luar Negeri China Qin Gang akan melawat ke Myanmar pada Selasa (2/5). Sebelumnya pada hari yang sama, Qin dikabarkan telah mengunjungi perbatasan China-Myanmar dan menyerukan persahabatan serta kerja sama antara kedua negara.

Dikutip dari AFP, informasi tersebut disampaikan oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning. Adapun kunjungan Qin ke Myanmar tampaknya tidak akan lama, hanya untuk bersinggah sebelum lawatan selanjutnya ke India.

“Penasihat Negara dan Menteri Luar Negeri Tiongkok Qin Gang akan mengunjungi Myanmar dan melakukan perjalanan ke India untuk menghadiri Pertemuan Menteri Luar Negeri Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) dari tanggal 2 hingga 5 Mei,” tutur Mao.

Lebih lanjut, kunjungan Qin ke perbatasan China-Myanmar ditujukan untuk meninjau sejumlah proyek Belt Initiative yang melalui bagian utara negara Myanmar dan menghubungkan Provinsi Yunnan yang terkurung di daratan dengan Samudra Hindia.

Menurut para analis, China merupakan sekutu utama Myanmar dan pemasok senjata penting bagi junta, tanpa mengutuk kudeta militer yang terjadi sejak 2021.

“Beijing juga mendukung dan mempersenjatai beberapa kelompok pemberontak etnis di sepanjang perbatasannya dengan Myanmar,” ungkap para analis.

Beberapa dari kelompok ini acap kali terlibat dalam bentrok dengan militer setelah kudeta, dan aliansi pemberontak yang didukung oleh China pada Maret 2023 lalu telah meminta bantuan Beijing untuk meredakan krisis.

Sejumlah aktivis dari Amnesty International Indonesia, Migrant CARE, dan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) membacakan pernyataan untuk mendesak penghentian kekerasan di Myanmar di di depan gedung Sekretariat ASEAN. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Lebih lanjut, pada Desember 2022 lalu China menunjuk seorang Utusan Khusus untuk Myanmar, Deng Xijun. Dia telah bertemu dengan pemimpin junta militer Min Aung Hlaing sedikitnya sudah dua kali sejak dilantik dan juga telah bertemu dengan para pemimpin etnis pemberontak.

Dikutip dari Xinhua, sehari sebelum kunjungannya ke Myanmar, Qin telah bertemu dengan Utusan Khusus Sekjen ASEAN untuk Myanmar, Noeleen Heyzer, pada Senin (1/5).

Kepada Heyzer, Qin mengatakan bahwa dengan faktor internal dan eksternal yang saling berkaitan, masalah Myanmar adalah masalah rumit dan tidak ada penyelesaian yang ‘cepat’.

Qin pun meminta dukungan komunitas internasional untuk senantiasa menghormati kedaulatan Myanmar, serta mendukung semua pihak dalam kerangka konstitusional dan hukum guna menjembatani perbedaan dan melanjutkan proses transisi politik melalui dialog politik.

“Komunitas internasional harus menghormati mediasi Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) dan mendorong implementasi lima butir konsensus tentang Myanmar (5 Point Consensus),” tutur Qin.

5 konsensus pemimpin ASEAN soal penuntasan krisis Myanmar. Foto: Dok: ASEAN

Diplomat top di China ini pun menekankan pentingnya bertindak secara hati-hati dan menahan diri untuk mencegah terjadinya eskalasi serta meluasnya krisis.

Qin menambahkan, China akan terus mendukung penyelesaian konflik yang terjadi di Myanmar dan ini itikad ini disambut baik oleh PBB.

“Upaya untuk menyelesaikan masalah Myanmar harus dipimpin oleh Myanmar, dan bahwa kehendak rakyatnya harus dihormati,” ungkap Heyzer.

“PBB menghargai peran penting China dalam mempromosikan penyelesaian masalah Myanmar dan berharap bahwa China akan terus memberikan kontribusi untuk perdamaian, stabilitas dan pembangunan Myanmar,” sambung dia.