Menlu Wang Yi Peringatkan AS Berhenti Menghambat Urusan China soal Taiwan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Luar Negeri China Wang Yi di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Rabu (13/1).  Foto: Dok. Kementerian Luar Negeri
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Luar Negeri China Wang Yi di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Rabu (13/1). Foto: Dok. Kementerian Luar Negeri

China memperingatkan Amerika Serikat agar segera berhenti menghambat perkembangan negaranya dan menghentikan kebiasaan menindas negara lain secara sepihak.

Peringatan ini mengacu pada kunjungan pejabat Barat ke Taiwan selama beberapa bulan terakhir. Beijing mengecam keras kunjungan tersebut.

Hal itu disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri China Wang Yi, ketika berbicara via telepon dengan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken, pada Jumat (23/12).

Kepada Blinken, Wang mengatakan AS harus memperhatikan kekhawatiran China yang sah atas intervensi Barat selama ini di Taiwan.

Wang meminta AS agar berhenti menekan dan menghambat perkembangan negaranya serta tidak terus-menerus menguji batas kesabaran Beijing.

Dalam hal ini, Wang menyinggung soal istilah ‘salami slicing’, yakni taktik mengerahkan serangkaian tindakan kecil hingga mencapai hasil yang jauh lebih besar, karena satu tindakan besar tidak dapat mewujudkan pencapaian itu.

Istilah ini mengacu pada kunjungan-kunjungan kecil dari berbagai delegasi pemerintahan Barat ke Taipei yang telah berlangsung beberapa kali. Pihak Barat menganggap serangkaian lawatan itu adalah bentuk solidaritas.

Konferensi pers Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken di Hotel Ritz Carlton Nusa Dua, Bali (9/7/2022). Foto: Aliyya Bunga/kumparan

Namun, sebaliknya Beijing menilai tindakan itu justru menyokong Taiwan untuk menjadi pemberontak dan mendorong kemerdekaannya sendiri.

Hal ini lantaran China memandang Taiwan sebagai bagian dari kedaulatannya sendiri yang suatu saat akan direbut kembali — meskipun harus melibatkan kekuatan militer. Barat beranggapan, tindakan China ini telah menindas kebebasan Taiwan yang sudah memiliki pemerintahan demokratisnya sendiri, tetapi Beijing melihat hal itu sebagai intervensi asing terhadap urusan dalam negerinya.

Seiring waktu berlalu, Beijing memandang tindakan AS perlahan-lahan menggerogoti kepentingan nasionalnya dan mulai bertindak di luar batas, seraya bersikap hati-hati guna menghindari konfrontasi langsung dengan China dan memberikannya alasan untuk meluncurkan reaksi skala penuh.

Pernyataan Wang menekankan hasil konsensus dari pertemuan bilateral antara Presiden Xi Jinping dan Presiden Joe Biden di sela-sela KTT G20 di Bali pada November lalu. Dalam pertemuan pertama kalinya digelar sejak 2017 itu, kedua pemimpin membahas berbagai isu hangat yang menjadi sorotan bersama — termasuk soal Taiwan.

Presiden AS Joe Biden bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di sela-sela KTT G20 di Nusa Dua, Bali. Foto: Kevin Lamarque/REUTERS

“Dalam panggilan telepon dengan Blinken, Wang menekankan bahwa kedua belah pihak harus fokus pada penerjemahan konsensus Bali dari kedua kepala negara ke dalam kebijakan praktis dan tindakan nyata,” bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri China, seperti dikutip dari Reuters.

Pada pertemuan itu, Biden menyuarakan keberatannya atas tindakan China yang semakin agresif terhadap Taiwan. Menurut Biden, agresi tersebut telah merusak perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan hingga kemungkinan berdampak pada cakupan kawasan yang lebih luas.

Namun, Xi menyebut isu soal Taiwan sebagai ‘garis merah pertama’, yakni batasan yang tidak boleh dilanggar agar hubungan China dengan AS tidak terdampak. Dan terlepas dari semua kecaman ini, China menyuarakan kesediaannya untuk berdialog dengan AS secara damai.

“Penting untuk meningkatkan konsultasi tentang prinsip-prinsip panduan hubungan China-AS, mempromosikan dialog di semua tingkatan, dan menyelesaikan masalah-masalah spesifik antara kedua negara melalui kelompok kerja bersama,” ujar Wang kepada Blinken.