Menristek Klaim Akurasi Rapid Test Buatan Lokal Nyaris Sempurna

Menristek Bambang Brodjonegoro meyakini sensitivitas rapid test lokal buatan BPPT tidak kalah dengan alat tes impor yang digunakan sebelumnya. Rapid test lokal yang dinamakan Ri-Gha COVID-19 itu dipercaya cepat atau lambat dapat menjawab kebutuhan di masa pandemi corona ini.
Tak hanya sensitif, Bambang menyebut alat ciptaan dalam negeri itu juga terbilang baik dari segi akurasi dan realibilitasnya (spesifitas). Hal itu terlihat dari sejumlah pengujian serum yang dilakukan pihaknya terhadap alat test cepat itu.
"Khusus untuk produk Ri-Gha COVID-19 ini sudah dilakukan uji validasi skala lab dengan hasil nilai sensitivitas untuk IgM-nya (Immunoglobulin M) 96,8%. Kemudian untuk IgG-nya (Immunoglobulin G) 74% melalui pengujian pada 40 serum pasien yang positif dari balitbangkes Artinya yang dilakukan dengan artificial," kata Bambang di Jakarta, Kamis (9/7).
"Kemudian tingkat spesifitasnya art IgM 98% bahkan untuk IgG-nya spesifitasnya 100% dan pengujian ini dilakukan pada 100 koleksi serum," sambungnya.
Tak hanya dilakukan pengetesan di dalam laboratorium, Bambang memastikan tes juga telah dilakukan di sejumlah rumah sakit.
"Produk ini sudah dilakukan juga akurasi, baik di rumah sakit sekitar 4.000 kit di Jogja, Solo, Semarang, dan Surabaya. Serta diperkuat dengan uji lapangan sekitar 6000 kit yaitu uji akurasi dan uji skrining di beberapa puskesmas termasuk yang di Kabupaten Sleman," ucap Bambang.
Setelah hasil uji coba dirasa memuaskan, proses berlanjut pada pencarian mitra agar alat tes itu dapat diproduksi secara massal untuk kebutuhan masyarakat. Hasilnya dua industri yakni PT Hepatika Mataram dan PT Prodia Diagnostic Line menyatakan keinginannya untuk bergabung dalam proyek tersebut.
"Mengenai besaran produksinya bulan ini kami targetkan bisa memproduksi 200.000 unit tetapi bulan depan dipastikan kita sudah bisa 400.000 unit. Dan kita masih terus mencari mitra industri tambahan sehingga produksinya nanti bisa menutup kebutuhan terutama ya untuk masyarakat Indonesia," ungkapnya.
Meski begitu, Bambang tak menampik tentang adanya pro kontra di masyarakat terkait lebih baiknya tingkat akurasi PCR test ketimbang rapid.
Hanya saja, Bambang menyebut bahwa memang kedua alat itu memiliki fungsi berbeda, alat rapid test diciptakan sebagai alat penapisan atau skrining. Sementara PCR pada umumnya digunakan sebagai alat diagnosa.
"Betul rapid test kalah akurat dibandingkan dengan PCR test, karena PCR test memang tujuannya adalah untuk diagnosa, sedangkan rapid test adalah untuk skrining," kata Bambang.
Kritik Terkait Rapid Test
Ahli wabah (epidemiolog) Universitas Indonesia Pandu Riono mengkritik masih diterapkannya rapid test di tengah pandemi corona. Menurut dia, rapid test tidak ada gunanya untuk menekan pandemi.
"Rapid test itu enggak ada gunanya. Jadi menurut serologi saja bisa, tapi untuk deteksi orang yang bawa virus enggak ada gunanya," kata Pandu di Jakarta, Kamis (9/7).
Menurut Pandu, rapid test hanya akal-akalan pemerintah. Meski harga sudah dibatasi paling mahal Rp 150 ribu, tapi fakta di lapangan berbeda.
"Orang itu ngakal-ngakalin, tesnya Rp 150 ribu, pelayanannya Rp 50 ribu, suratnya Rp 50 ribu. Jadi akhirnya Rp 300 ribu lebih," tutur Pandu.
