Mensesneg Soal 4 Pulau Jadi Polemik: Banyak yang Gelap-gelap Menunggangi

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Keterangan pers penyelesaian permasalahan empat Pulau di Perbatasan Prov. Aceh dan Sumut. Foto: Youtube/Sekretariat Presiden
zoom-in-whitePerbesar
Keterangan pers penyelesaian permasalahan empat Pulau di Perbatasan Prov. Aceh dan Sumut. Foto: Youtube/Sekretariat Presiden

Presiden Prabowo Subianto mengambil keputusan 4 pulau menjadi milik Aceh. Keputusan ini juga disepakati semua pihak, termasuk Gubernur Aceh Muzakir Manaf dan Gubernur Sumut Bobby Nasution.

Mensesneg Prasetyo Hadi meminta semua pihak untuk menahan diri. Ada baiknya, melihat dulu dengan baik inti masalahnya sehingga isu tidak dilarikan ke mana-mana.

"Nah, ini juga warning buat kita. Jangan karena ada masalah, kemudian isunya digeser ke mana-mana, nanti terjadi saling gesekan, saling tidak percaya satu sama lain. Itu banyak yang gelap-gelap itu menunggangi, isunya jadi ke mana-mana," kata Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (17/6).

Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat pengambilan keputusan 4 pulau kembali milik Aceh. Foto: Dok. Sekertariat Kabinet

Salah satu isu yang membumbui polemik kepemilikan 4 pulau ini, yakni dugaan adanya potensi migas di dalamnya. Padahal, kata Prasetyo, belum ada bukti potensi migas di Pulau Panjang, Pulau Lipan, Pulau Mangkir Ketek dan Mangkir Panjang, itu.

"Di situ ada satu pemerintahan yang mau mengambil, kemudian diisukan ada sumber daya energi yang cukup besar. Padahal kita cek, kami cek di SDM, belum pernah ada penelitian di tempat-tempat tersebut memiliki kandungan energi," ujar dia.

Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat pengambilan keputusan 4 pulau kembali milik Aceh. Foto: Laily Rachev - Biro Pers Sekretariat Presiden

Untuk itu, Prasetyo meminta semua pihak untuk menahan diri. Jangan sampai isu yang belum jelas malah jadi sumber gesekan di tengah masyarakat.

"Jadi memang sekali lagi, ini pesan buat kita bersama-sama. Mari kita yang saling apa namanya, waspada, saling mawas diri, menerima sesuatu informasi yang harus dicari kebenarannya. Jangan terprovokasi apalagi, kemudian bergeser dari substansinya," tutur dia.

"Karena ternyata apa yang berkembang di masyarakat kan sekarang bisa terselesaikan dengan baik," ucap dia.