Mentan Ungkap Ada Mafia di Rantai Pasok Pangan, Janji Bakal Diberantas

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mentan Amran Sulaiman percepat pembangunan ekosistem peternakan terintegrasi dari hulu hingga hilir di lima kawasan dengan anggaran Rp2,2 triliun untuk dukung ketahanan pangan dan Makan Bergizi Gratis di Bone, Sulawesi Selatan, Jumat (25/9/2026). Foto: Kementan RI
zoom-in-whitePerbesar
Mentan Amran Sulaiman percepat pembangunan ekosistem peternakan terintegrasi dari hulu hingga hilir di lima kawasan dengan anggaran Rp2,2 triliun untuk dukung ketahanan pangan dan Makan Bergizi Gratis di Bone, Sulawesi Selatan, Jumat (25/9/2026). Foto: Kementan RI

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyebut ada mafia yang bermain di rantai distribusi pangan. Praktik ini membuat harga di tingkat peternak anjlok, sementara harga di tingkat konsumen tetap melambung.

Hal itu disampaikannya usai rapat koordinasi inflasi di kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta Pusat, Senin (12/10).

Amran mengatakan, ada tiga komoditas yang inflasinya menonjol, yakni telur ayam, daging ayam, dan beras. Anehnya, harga di tingkat produsen justru berada di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP).

"Karena harga rendah, peternaknya demo, tapi dalam waktu bersamaan konsumen juga berteriak. Artinya ada middleman, ada mafia. Mafia ini kita harus beresin, tidak boleh toleransi lagi," kata Amran.

Amran menjelaskan, ada ribuan peternak berunjuk rasa pada 9 Oktober. Dalam pertemuan dengan DPR RI, terungkap harga ayam di tingkat peternak hanya sekitar Rp 20.000 hingga Rp 21.000 per kilogram, tetapi di tingkat konsumen mencapai Rp 40.000 hingga Rp 45.000.

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian (kanan) dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (kiri) mengikuti rapat koordinasi yang dilanjutkan dengan penandatanganan Surat Edaran Bersama (SEB) di Kantor Kemendagri, Jakarta, Senin (12/10/2026). Foto: Fauzan/ANTARA FOTO

Menurut Amran, harga ayam dan telur seharusnya berada di kisaran Rp 26.000. Ia menilai selisih harga yang jauh itu akibat ulah pihak-pihak yang memainkan harga di tengah rantai distribusi.

"Peternak berjibaku siang malam, tidak tidur, kerja berproduksi, kita surplus, kita ekspor, tapi harga dalam negeri naik melambung," ujarnya.

Amran juga menyoroti dalih lama soal beras. Dulu, kata dia, beras disebut tidak ada di gudang, padahal kini stok melimpah. Kapasitas gudang yang semula 3 juta ton kini terisi 4,5 juta ton.

"Apa alasannya lagi?" kata Amran.

Amran juga mengungkap temuan dugaan penipuan pada beras fortifikasi, yakni beras yang diberi tambahan vitamin B12.

Beras tersebut dijual seharga Rp 56.000 per kilogram, padahal menurut dia hanyalah beras biasa yang harganya sekitar Rp 13.500.

"Rp 56.000 itu palsu, penipuan. Kenapa? Karena beras biasa. Harganya Rp 13.500 tapi dijual Rp 56.000. Untungnya Rp 40.000 lebih per kilo," ujar Amran.

Ia memperkirakan kerugian masyarakat akibat praktik tersebut mencapai Rp 89 triliun pada tahun ini.

Untuk menindak persoalan ini, Kementerian Pertanian telah bersurat kepada Kapolri dan sepakat berkolaborasi. Amran mengatakan langkah ini sejalan dengan perintah Presiden.

"Perintah Bapak Presiden: 'Pak Mentan, jangan beri ruang mafia bermain di tengah rakyat kecil'," kata Amran.

Reporter: Nabilah Siti Nurhikmah