Menteri LH: 120 Lebih Kota/Kabupaten Berstatus Sangat Kotor

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyampaikan keterangan pers terkait proses penanganan bencana Sumatera di Jakarta, Selasa (23/12/2025). Foto: ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyampaikan keterangan pers terkait proses penanganan bencana Sumatera di Jakarta, Selasa (23/12/2025). Foto: ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto

Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq mengungkapkan masih banyak kota di Indonesia yang berstatus sangat kotor. Salah satu indikator daerah disebut kotor karena tidak atau belum mengalokasikan anggaran untuk penanganan sampah.

“Kemudian secara umum, maka 120-an lebih ini masih dalam status kota sangat kotor,” tutur Hanif kepada wartawan di Balai Kartini, Jakarta pada Rabu (25/2).

Lebih lanjut, Hanif mengatakan, KLH telah memberikan sosialisasi kepada kepala daerah baik dari sisi penegakkan hukum maupun tata kelola pengelolaan sampah.

“Nah kemudian sampah-sampah liar, ini akan kami mintakan bupati/walikota untuk melakukan penegakan hukum dengan pengawalan dari kami atau dari Korwas (koordinator pengawasan) kami dari teman-teman Kepolisian,” jelasnya.

Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq dalam acara Rakornas Pengelolaan Sampah Tahun 2026 di Balai Kartini, Jakarta pada Rabu (25/2/2026). Foto: Luthfi Humam/kumparan

Tak Ada Peraih Adipura

Tahun ini, KLH juga tidak memberikan predikat Adipura. Sebab belum ada kota yang benar-benar baik dalam pengelolaan lingkungan.

Predikat Adipura adalah penghargaan yang diberikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) untuk daerah yang berhasil menjaga kebersihan, keteduhan, serta pengelolaan lingkungan berkelanjutan.

Hanif mengatakan, saat ini hanya ada nominasi kota bersih. Itu pun menurutnya masih tampak bersih di beberapa bagian saja, tidak secara keseluruhan daerah.

“Yang terbaik satu untuk klaster kota itu Surabaya. Kemudian terbaik dua Balikpapan. Hanya dua terbaik,” ungkap Hanif.

“Semacam Surabaya yang menjadi kota terbaik satu, pada saat kita masuk di kotanya sangat bersih. Tetapi pada saat kita masuk ke pinggirnya, itu masih banyak yang harus dibenahi,” lanjutnya.