Menteri LH Sebut RI Produksi 143 Ribu Ton Sampah Sehari: Jangan Food Waste

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyampaikan paparan dalam kumparan Green Initiative Conference 2025 di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (18/9/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyampaikan paparan dalam kumparan Green Initiative Conference 2025 di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (18/9/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq menyoroti masalah serius terkait sampah di Indonesia yang mencapai 143 ribu ton per hari. Dari jumlah itu, hampir separuhnya berupa food waste atau sisa makanan yang seharusnya bisa dicegah dengan perubahan perilaku konsumsi masyarakat.

"Sampah kita 143.000 ton per hari. Kalikan saja 36 hari, berapa juta ton itu nanti sampah kita. Berdasarkan pengawasan yang saya lakukan selama 2-3 bulan yang lalu, saya turunkan semua staf saya ke lapangan sampai di kabupaten/kota. Berapa sih yang dikelola oleh kabupaten/kota? Ternyata baru kurang dari 15 persen," kata Hanif.

Hal itu disampaikan Hanif di acara kumparan Green Initiative Conference 2025 di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (18/9)

“Artinya sampah yang jutaan, yang puluhan juta itu hilang di tempat pembuangan akhir atau hilang di sungai-sungai,” tambahnya.

Ia menjelaskan teknologi Waste to Energy (WtE) hanya bisa mengurangi sekitar 20 ribu ton sampah per hari, jauh dari total 143 ribu ton yang dihasilkan. Hal itu diperburuk dengan tingginya porsi food waste yang membuat pengolahan sampah semakin sulit.

“Waste to Energy itu minimal sampah yang tersedia harus 1.000 ton yang bersihnya. Maka sampah yang kotornya harus 2.000 ton. Karena hampir 40 sampai 50% sampah kita adalah food waste,” jelas Hanif.

Hanif pun menekankan pentingnya perubahan gaya hidup masyarakat agar tidak menambah beban lingkungan melalui sisa makanan.

“Makanya ditanya, apa sih langkah baik untuk mengelola lingkungan kita? Saya titip hari ini, kalau makan seadanya. Kalau punya duit banyak enggak masalah, kita enggak iri. Tetapi belilah secukupnya,” ujar Hanif.

“Karena begitu menyisakan makanan, maka berkontribusi meningkatkan food waste kita, meningkatkan jumlah sampah kita yang hari ini belum terselesaikan. Maka Waste to Energy hanya mampu mereduksi sampah sebesar hitungan saya 20 ribu ton per hari,” ujarnya.

Ilustrasi Membersihkan Tong Sampah di Rumah. Foto: Shutterstock

Menurutnya, meski WTE dan teknologi refuse derived fuel (RDF) bisa mengurangi sekitar puluhan ribu ton sampah per hari, masih ada lebih dari 100 ribu ton sampah lain yang harus ditangani. Untuk itu, ia menegaskan perlunya membangun ekonomi sirkular atau ekonomi hijau agar sampah bisa diolah kembali menjadi nilai ekonomi.

“Semakin banyak sampah, maka semakin banyak masalah. Sehingga bagaimana 100.000 ton per hari ini harus kita pikirkan bersama. Maka tidak lain tidak bukan kita wajib membangun circular economy, ekonomi hijaunya, ekonomi yang mampu mengolah kembali sampah, mereduksi sampahnya menjadi kegiatan yang berbasis ekonomi,” tegas Hanif.

“Kalau itu tidak bisa kita ciptakan, maka dipastikan sampai puluhan tahun kita enggak akan bisa menyelesaikan sampah tanah air kita,” tambahnya.

Acara kumparan Green Initiative Conference 2025 hadir sebagai platform penting untuk mendorong pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia.

Sejalan dengan tema besarnya, “Green Transition for Energy Sovereignty and National Industrial Revival”, acara ini tidak hanya menyajikan diskusi inspiratif, namun juga menerjemahkan komitmen peduli lingkungan ke dalam serangkaian aksi nyata dan patut dicontoh dalam mewujudkan konferensi dan event ramah lingkungan.

kumparan Green Initiative Conference 2025 diselenggarakan pada 17-18 September 2025 di Hotel Borobudur Jakarta, dengan menerapkan praktik-praktik pro-lingkungan di setiap aspek penyelenggaraannya.