Menteri LH Soal Banjir Bali: Hutan di DAS Cuma 3%, Drainase Tertutup Sampah
·waktu baca 2 menit

Banjir besar melanda Bali pada Rabu (10/9). Terdapat korban jiwa, bangunan rusak diterjang banjir tersebut.
Banjir Bali ini disebut dipicu minimnya tutupan hutan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Ayung dan buruknya pengelolaan sampah yang menutup selokan serta sungai.
DAS Ayung membentang seluas 49.500 hektar dan menaungi sejumlah aliran sungai penting seperti Tukad (Sungai) Badung, Tukad Mati, dan Tukad Singapadu.
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyebut tutupan hutan di DAS seluas 95.000 hektare itu tinggal sekitar 1.500 hektare, atau hanya 3 persen saja.
“Kemudian dari 95.000 hektare tersebut yang ada hutan atau pohonnya 1.500 hektare. Hanya 3 persen,” ujarnya dalam acara kumparan Green Initiative yang digelar di Jakarta Pusat, Kamis (18/9).
Ia menyebut area yang tersisa itu kini padat akibat aktivitas pariwisata di hilir DAS Ayung, yakni di Denpasar, Badung, dan Gianyar.
“Penduduknya tidak banyak, tetapi turisnya sangat banyak,” ucapnya.
Tak hanya itu, menurut Hanif, persoalan diperparah oleh timbunan sampah yang menutup saluran drainase dan aliran sungai.
Ia menyebut dari hasil pengawasan dua hingga tiga bulan terakhir, pengelolaan sampah oleh pemerintah kabupaten/kota di Indonesia masih kurang dari 15 persen, termasuk di Bali.
“Dan ternyata selain karena tidak ada tutupan hutannya, maka selanjutnya semua selokan drainase dan sungai-sungainya tertutup sampah,” tambahnya.
Ia menyebut, timbulan atau produksi sampah di Indonesia sekitar 143.000 ton per hari. Namun solusi pengolahan berbasis teknologi masih terbatas.
“Sampah kita 143.000 ton per hari. Kalikan saja 36 hari, berapa juta ton itu nanti sampah kita. Berdasarkan pengawasan yang saya lakukan selama 2-3 bulan yang lalu, saya turunkan semua staf saya ke lapangan sampai di kabupaten/kota. Berapa sih yang dikelola oleh kabupaten/kota? Ternyata baru kurang dari 15%,” kata Hanif.
“Artinya sampah yang jutaan, yang puluhan juta itu hilang di tempat pembuangan akhir atau hilang di sungai-sungai,” tambahnya.
Ia menjelaskan teknologi Waste to Energy (WtE) hanya bisa mengurangi sekitar 20 ribu ton sampah per hari, jauh dari total 143 ribu ton. Hal itu diperburuk dengan tingginya porsi food waste yang membuat pengolahan sampah semakin sulit.
Oleh karena itu, Hanif menekankan perlunya pengurangan sampah makanan (food waste), yang disebutnya mencapai 40–50 persen dari total sampah, melalui perubahan perilaku konsumsi masyarakat.
Hal itu merupakan solusi yang sama pentingnya di luar solusi teknologi untuk mencegah banjir serupa terulang.
