Menteri LH soal Ekonomi Biru: Laut Jangan Cuma Dieksploitasi, tapi Juga Dijaga

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq memberikan arahan saat meninjau kawasan industri Pulogadung, Jakarta, Senin (16/6/2025). Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq memberikan arahan saat meninjau kawasan industri Pulogadung, Jakarta, Senin (16/6/2025). Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO

Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menegaskan konsep ekonomi biru tidak boleh hanya memandang laut sebagai sumber daya untuk dieksploitasi. Namun juga sebagai modal alam yang berharga untuk dirawat demi masa depan.

“Konsep ekonomi biru mendorong kita untuk memandang laut bukan semata sebagai sumber daya yang dieksploitasi, melainkan sebagai modal alam yang berharga untuk dirawat,” ujar Hanif dalam acara PEMSEA Network of Local Governments (PNLG) Forum 2025 di Hotel Indonesia Kempinski, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (16/9).

“Konsep ini tentang menemukan keseimbangan yang rapuh namun penting. Memanfaatkan potensi ekonomi laut sekaligus dengan ketat menjaga integritas ekologisnya. Inilah inti dari pembangunan berkelanjutan,” lanjutnya.

Ia menekankan keberlanjutan sejati tidak akan tercapai jika ekonomi biru tidak bersifat inklusif.

“Keberlanjutan sejati harus mampu mengangkat kesejahteraan seluruh komunitas pesisir, terutama nelayan tradisional dan masyarakat lokal. Kita juga harus memastikan generasi muda dan perempuan diberdayakan sebagai pemimpin masa depan dalam pengelolaan laut. Pengetahuan, hak, dan kesejahteraan mereka harus menjadi inti kebijakan dan aksi kita,” katanya.

Ilustrasi keindahan alam bawah laut Bunaken Foto: Shutter Stock

Hanif juga menyoroti hubungan antara iklim, alam, dan energi sebagai titik penentu keberhasilan atau kegagalan perjuangan melawan krisis laut.

Ia menyebut laut sebagai sekutu sekaligus korban terbesar dari perubahan iklim.

“Melindungi dan memulihkan ekosistem karbon biru. Mangrove, lamun, dan rawa pasang surut adalah salah satu solusi iklim berbasis alam yang paling efektif dan hemat biaya yang kita miliki. Indonesia, dengan hutan mangrove terbesar di dunia, berkomitmen penuh pada agenda ini,” jelasnya.

Ilustrasi hutan mangrove. Foto: Unspalsh

Lebih lanjut, Hanif menegaskan ekosistem laut yang sehat adalah fondasi ekonomi biru. Menurutnya, Integrated Coastal Management (ICM) telah terbukti menjadi alat untuk menjaga harmoni antara pembangunan dan konservasi.

Selain itu, ia mendorong investasi dalam energi terbarukan berbasis laut.

“Kita harus menjadi pelopor dan berinvestasi dalam energi terbarukan berbasis laut, mulai dari angin lepas pantai hingga tenaga pasang surut dan arus laut,” ungkap Hanif.

Pemandangan udara menunjukkan ponton kayu yang dilengkapi untuk mengeruk dasar laut untuk deposit bijih timah di lepas pantai Toboali, di pantai selatan pulau Bangka, Indonesia, 1 Mei 2021. Foto: Willy Kurniawan/REUTERS

“Kita harus mendukung inovasi seperti model sinergi perikanan-fotovoltaik yang menggabungkan akuakultur dengan energi surya, menunjukkan bagaimana kita dapat menghasilkan lebih banyak pangan dan energi bersih dari jejak lahan yang sama,” tambah dia.

Hanif menutup sambutannya dengan menekankan kepemimpinan dalam transisi menuju ekonomi biru berkelanjutan tidak hanya lahir dari ibu kota negara. Namun, juga lahir di setiap kota, provinsi, dan juga masyarakatnya.

“Anda adalah garda terdepan. Anda adalah para inovator. Anda memahami konteks lokal, tantangan spesifik, serta peluang yang unik. Kisah sukses dan pembelajaran yang akan dibagikan beberapa hari ke depan adalah harta berharga yang akan menerangi jalan kita ke depan,” ucapnya.