Menteri LH: Tahun 1993 Tiap Hari Lihat Pesut Mahakam, Sekarang Sisa 62 Ekor

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq memberikan sambutan saat menghadiri kumparan Green Initiative Conference 2025 di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (18/9/2025). Foto: Wahyu/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq memberikan sambutan saat menghadiri kumparan Green Initiative Conference 2025 di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (18/9/2025). Foto: Wahyu/kumparan

Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq menyoroti terkait kasus-kasus konflik antara manusia dengan hewan. Menurutnya, hewan yang terancam karena ulah manusia.

Ia mencontohkan, salah satu hewan yang terdampak konflik dengan manusia adalah pesut mahakam, hewan endemik dari Sungai Mahakam, Kalimantan Timur.

“Tahun 1993, saya menjadi pegawai pertama dari Kementerian Lingkungan Hidup, hampir setiap tahun, dua kali sekali saya mendapat pendidikan di Samarinda, di Sungai Mahakam. Siang-sore kita nongkrong di tepian namanya. Itu ada gorengan dan lain-lain kita nongkrong. Hampir setiap hari kita bisa melihat pesut-pesut Mahakam muncul dan bercengkrama di Sungai Mahakam,” ungkap Hanif saat hadiri acara Forum Plastic, Climate, Biodiversity Nexus Forum di Ritz Carlton, Jakarta, Selasa (28/10).

Ia mengatakan, keberadaan pesut Mahakam kini semakin terancam. Ia menyebut, data yang ia terima, jumlah pesut saat ini hanya tersisa 62 ekor.

“Data mencantumkan kepada kita, hanya tersisa 62 ekor. Meskipun kemarin, seminggu yang lalu saya dapat rekaman yang membahagiakan kita, video yang menunjukkan ternyata ada dua ekor anak lahir dari pesut Mahakam ini,” ungkapnya.

Pesut mahakam atau Irrawaddy Dolphin Foto: worldwildlife.org

Selain pesut Mahakam, Hanif juga menyoroti konflik manusia dengan hewan lainnya yang terjadi di Provinsi Riau. Menurut dia, banyak hewan di dalam hutan di sana yang habitatnya terganggu karena aktivitas pembukaan lahan terus menerus oleh manusia.

Padahal, menurut Hanif, Indonesia menjadi negara yang memiliki biodiversity yang beraneka ragam.

“Dalam 8 juta hektare provinsi Riau, maka 4,5 juta hektarenya merupakan perkebunan kelapa sawit,” kata Hanif.

“Di situ kan tempatnya gajah, macan, dan orang utan, harimau, ke mana dia bersembunyi? Ke mana dia lari? Kita seolah-olah buta, bodoh dengan kondisi ini. Mari kita lakukan langkah-langkah penting untuk menyelamatkan megafauna yang ada di Provinsi Riau ini,” imbuhnya.

Hanif menilai, koridorisasi antara manusia dan hewan menjadi suatu hal yang mendesak untuk menjaga kelestarian flora dan fauna Indonesia.

“Mari kita lakukan langkah-langkah penting untuk menyelamatkan megafauna yang ada di Provinsi Riau ini. Ayo kita susun, bagaimana kemudian koridorisasi satwa ini kita bisa bangun,” pungkasnya.