Menteri Pendidikan Serbia Mundur usai Insiden Penembakan Brutal di Sekolah

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah warga memberikan penghormatan terakhir usai insiden penembakan di SD Vladislav di Ribnika di ibu kota Serbia, pada Rabu (3/5/2023). Foto: Andrej Isakovic/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah warga memberikan penghormatan terakhir usai insiden penembakan di SD Vladislav di Ribnika di ibu kota Serbia, pada Rabu (3/5/2023). Foto: Andrej Isakovic/AFP

Menteri Pendidikan Serbia Branko Ruzic mengundurkan usai terjadinya peristiwa penembakan brutal di sekolah. Keputusan Ruzic ini disampaikan pada Minggu (7/5), empat hari usai penembakan di sekolah yang menewaskan delapan siswa dan seorang penjaga keamanan.

Ruzic menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban "tragedi dahsyat" yang mengguncang negara Balkan itu dalam surat terbuka yang dikirim ke Perdana Menteri Serbia Ana Brnabic.

"Sebagai orang yang bertanggung jawab dan santun, profesional dalam menjalankan semua tugas publik sebelumnya... Saya mengajukan pengunduran diri saya yang tidak dapat ditarik kembali dari posisi Menteri Pendidikan di Pemerintah Republik Serbia," kata Ruzic dalam surat yang dibagikannya di Twitter, dikutip dari AFP.

Mulanya, Ruzic menyalahkan internet, video game, dan nilai-nilai barat atas pembantaian yang terjadi di sekolah. Adapun pelakunya seorang laki-laki berusia 13 tahun.

Pada Rabu (3/5), remaja itu menggunakan dua pistol milik ayahnya untuk membantai delapan murid dan seorang penjaga keamanan di lorong dan kelas sejarah di sekolah mereka.

Sejumlah warga memberikan penghormatan terakhir usai insiden penembakan di SD Vladislav di Ribnika di ibu kota Serbia, pada Rabu (3/5/2023). Foto: Andrej Isakovic/AFP

Partai oposisi dan kelompok hak asasi manusia segera menyerukan pengunduran diri sang menteri, sementara ribuan orang berkumpul di depan kementerian sehari setelah penembakan menyampaikan pesan yang sama.

Kurang dari 48 jam setelah penembakan sekolah, negara kecil Balkan itu dikejutkan lagi dengan pembantaian lain ketika seorang remaja berusia 21 tahun menembak mati delapan orang di sebuah desa dekat ibu kota Beograd. Ini merupakan insiden kedua.

Presiden Serbia Aleksandar Vucic berjanji akan meluncurkan rencana perlucutan senjata berskala besar, sementara polisi berjanji akan mengerahkan petugas untuk berpatroli di sekitar sekolah.