Menteri PPPA Beberkan 5 Faktor Pemicu Marak Kekerasan Anak

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi perundungan (dibully) atau bullying. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perundungan (dibully) atau bullying. Foto: Shutterstock

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi bicara hasil analisis internal kementeriannya terkait penyebab meningkatnya kasus kekerasan terhadap anak di Indonesia.

Ia menyebut, ada lima faktor utama yang menjadi pemicu marak kekerasan anak.

Berikut 5 faktor tersebut:

  1. Ekonomi

  2. Pola asuh

  3. Gadget

  4. Lingkungan

  5. Pernikahan anak

“Jadi kami menganalisa ada lima penyebab kekerasan terhadap anak. Pertama, faktor ekonomi, kedua pola asuh. Orang tua kita banyak yang curhat sulit memberikan pengasuhan kepada anaknya,” ujar Arifah saat menghadiri Festival Hari Anak Sedunia di Hotel Lumire, Senen, Jakarta Pusat, Kamis (20/11).

“Yang ketiga adalah faktor gadget, yang keempat faktor lingkungan, dan yang kelima adalah faktor pernikahan anak usia dini,” lanjutnya.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi. Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO

Arifah menjelaskan, tingginya laporan kekerasan juga dipengaruhi oleh keberhasilan kampanye pihak terkait untuk mendorong anak agar berani bersuara.

“Satu sisi, kami merasa bahwa keberhasilan kampanye untuk berani berbicara ini berhasil karena semakin banyaknya yang melaporkan,” katanya.

Namun, kondisi tersebut sekaligus menjadi catatan serius bagi pemerintah untuk memperkuat langkah pencegahan. “Tetapi ini juga menjadi catatan kita,” lanjutnya.

video from internal kumparan

Perlu Kerja Sama Lintas Sektor

Arifah menegaskan, isu kekerasan terhadap anak tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Diperlukan kerja sama lintas sektor serta pendekatan yang berangkat dari empati.

“Saya yakin kalau kita bisa berkolaborasi bersama-sama persoalan ini bisa kita selesaikan bersama-sama. Karena menyelesaikan persoalan perempuan dan anak tidak bisa hanya sekadar tugas, tapi harus panggilan hati,” tutur Arifah.

“Karena dengan pekerjaan yang berangkat dari hati, apa pun yang akan terjadi bisa kita lewati bersama-sama,” pungkas dia.