Menteri PPPA Minta Korban Kekerasan Seksual Jangan Takut Melapor
·waktu baca 2 menit

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, mengimbau perempuan dan anak agar tidak takut melapor jika menjadi korban kekerasan, termasuk kekerasan seksual.
Hal itu disampaikan Arifah usai penandatanganan Surat Keputusan Bersama Program Percontohan Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu bagi Perempuan dan Anak di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (4/6).
“Iya jadi teman-teman sekalian kekerasan ini bisa terjadi di mana pun, kapan pun, oleh siapa pun,” kata Arifah kepada wartawan.
Menurut dia, pemerintah saat ini tengah membangun sistem layanan terpadu agar korban lebih mudah mendapatkan perlindungan tanpa harus berpindah-pindah instansi.
Arifah mengatakan selama ini banyak korban enggan melapor karena proses yang panjang dan berbelit. Korban kerap harus datang ke berbagai lembaga berbeda untuk mendapatkan layanan kesehatan, pendampingan hukum, hingga perlindungan.
“Kadang mereka harus dari tempat pengaduan pertama dioper ke pengaduan kedua, kemudian dari pengaduan kedua dioper lagi ke ketiga, balik lagi ke sini, dari sini balik lagi. Dan itu yang menyebabkan korban akhirnya malas untuk melapor,” ujarnya.
Karena itu, pemerintah akan mulai menguji coba sistem layanan satu pintu di DKI Jakarta agar korban cukup datang ke satu tempat untuk memperoleh seluruh layanan yang dibutuhkan.
“Maka di Perpres ini kami mencoba membuat uji coba bagaimana ketika korban mengalami kekerasan, dia cukup datang ke satu tempat dan layanan itu yang akan menghampiri,” tutur Arifah.
Ia juga menegaskan kerahasiaan korban akan dilindungi dalam sistem layanan terpadu tersebut.
Dalam kesempatan itu, Arifah turut menyoroti pentingnya peran keluarga dalam mencegah kekerasan terhadap anak. Ia mengungkapkan hasil survei yang menunjukkan mayoritas anak lebih memilih curhat kepada teman dibanding orang tua.
“Ada satu pertanyaan yang membuat saya agak menjadi perhatian. Satu pertanyaannya begini: kalau kalian ada masalah kalian akan curhat ke siapa? 20 persen mereka jawab curhatnya kepada orang tua, tetapi 80 persen mereka curhatnya kepada teman,” ucapnya.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi tanda pentingnya penguatan komunikasi di lingkungan keluarga.
“Ada apa dengan keluarga-keluarga kita sehingga anak-anak ini tidak berani curhat kepada orang tuanya,” lanjut Arifah.
Arifah juga mengajak masyarakat membangun kesadaran bersama untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak melalui semua tagline.
“Kami melakukan apa, bangkit bersama melawan kekerasan dengan tagline 'Kami tidak mau menjadi korban dan tidak mau menjadi pelaku',” tegasnya.
