Menterinya Batal Diundang Jadi Pembicara, Taiwan Protes ke Korsel

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kolase foto: Bendera China dan Taiwan. Foto: AFP
zoom-in-whitePerbesar
Kolase foto: Bendera China dan Taiwan. Foto: AFP

Taiwan melayangkan protes terhadap Korea Selatan (Korsel) pada Selasa (21/12). Protes dilayangkan setelah salah satu menterinya batal diundang dan menjadi pembicara di sebuah konferensi di Seoul.

Dikutip dari AFP, pembatalan tersebut dilakukan oleh Korsel akibat adanya “isu lintas-Selat” atau “cross-Strait issues.” Istilah ini biasa digunakan untuk mendeskripsikan hubungan dan isu antara China dan Taiwan.

Seperti diketahui, hubungan antara Beijing dan Taipei terus memanas. China mengeklaim Taiwan adalah wilayah milik mereka, sedangkan Taiwan bersikeras diri mereka adalah negara yang berdaulat.

Menteri Digital Taiwan, Audrey Tang, dijadwalkan untuk menjadi pembicara di konferensi di Seoul pada 16 Desember lalu. Tetapi, Kementerian Luar Negeri Taiwan mengatakan, acara tersebut dibatalkan oleh pihak pengelola akibat “sejumlah aspek isu lintas-Selat.”

Digital Minister Taiwan, Audrey Tang. Foto: Sam Yeh/AFP

“Kementerian Luar Negeri [Taiwan] telah memanggil penjabat perwakilan Korea Selatan untuk Taipei, untuk menyatakan rasa kekecewaan kami atas tindakan yang tidak santun tersebut,” ujar juru bicara Kemlu Taiwan, Joanne Ou.

Perwakilan Taiwan di Ibu Kota Seoul juga sudah melayangkan protes besar kepada Pemerintah Korsel.

Mengingat klaim China atas Taiwan, Beijing menolak keras seluruh hubungan resmi antara Taiwan dengan negara-negara lain.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk memutus hubungan Taiwan dengan komunitas internasional. Sejak 2016 hingga sekarang, sudah ada delapan negara yang memutus hubungan diplomatik dengan Taiwan dan berpindah ke Beijing.

Salah satu yang terbaru adalah Nikaragua. Mereka menjalin hubungan diplomatik dengan Beijing pada 10 Desember lalu dan meninggalkan Taiwan.

Korsel sendiri secara resmi mengakui Pemerintahan Beijing, bukan Taipei.

Moon Jae In. Foto: Twitter/moonriver365

“Saya memahami keputusan ini dibuat setelah peninjauan yang komprehensif dari seluruh aspek terkait,” ungkap juru bicara Kemlu Korsel, Choi Yong-sam, kepada wartawan pada Selasa (21/12).

“Posisi Pemerintahan tetap sama, dan dengan itu, kami akan terus meningkatkan pertukaran tak resmi kami dengan Taiwan,” lanjutnya.

Korsel merupakan salah satu sekutu Kekuatan Barat di Asia, layaknya Jepang. Namun, tak seperti Jepang, Korsel tidak terlalu terbuka dan blak-blakan dalam mendukung Taiwan.

Presiden Korsel, Moon Jae-in, tidak ikut memboikot Olimpiade Musim Dingin 2022 di Beijing layaknya sejumlah negara di dunia. Boikot diplomatik tersebut dipimpin oleh Amerika Serikat, dan diikuti oleh sejumlah negara seperti Australia dan Jepang.

Presiden Moon mengatakan, Korsel ingin menjalin hubungan yang harmonis dengan China. Menurutnya, kerja sama dengan Beijing sangat diperlukan untuk membawa perdamaian di Semenanjung Korea. Beijing sendiri merupakan pendukung utama dari Pyongyang.