Menu Berbuka Puasa di Masjid Gedhe Yogyakarta: Gulai hingga Brongkos

Bulan Ramadan 1443 hijriah terasa spesial. Musababnya, aturan pemerintah di saat pandemi COVID-19 ini jauh lebih longgar dibanding tahun-tahun sebelumnya. Di tahun ini, Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta pun kembali mengadakan buka puasa bersama.
"Alhamdulillah Ramadan 1443 hijriah kita sudah menjadi agak normal lagi. Artinya hampir seluruh kegiatan itu sudah ada persamaan dengan sebelum adanya pandemi, salat tarawih, tadarus, salat subuh juga. Kemudian buka puasa bersama, semuanya kita selenggarakan hampir sama dengan sebelum pandemi," kata Ketua Takmir Masjid Gedhe Kauman Yogya Azman Latif, Jumat (1/4).
Sejumlah menu buka puasa juga telah disiapkan oleh takmir masjid. Menu favorit seperti gulai dan brongkos juga akan disuguhkan di hari-hari tertentu. Brongkos adalah sejenis makanan daging dan kacang berkuah bumbu keluak.
"Menu khusus khas, ada gulai kambing, brongkos hari tertentu," jelasnya.
Setiap harinya akan ada sekitar 1.000 porsi untuk berbuka puasa di Masjid Gedhe. Bahkan untuk gulai, porsinya akan ditambah hingga 1.300 porsi karena peminatnya biasanya banyak.
"Gulai peminat banyak, rata rata 1.300 per harinya," katanya.
Meski sudah bisa menggelar buka puasa bersama, jemaah diminta tetap menjaga jarak. Saat berbuka bersama, setiap jemaah harus menjaga jarak setidaknya 1 meter.
"Tahun lalu ada tapi tidak di sini tapi bagikan langsung (box), besok makan di sini tapi berjarak 1 meter lebih, kebanyakan pakai piring tapi dikasih nasi bungkus, ada kuahnya juga, kalau dibuka tetap pakai piring," jelasnya
Hal serupa juga dilakukan saat salat. Saf masih diberi jarak dan tidak terlalu rapat satu jemaah dengan jemaah lainnya dan tetap wajib prokes. Salat tarawih pertama pun akan digelar nanti malam.
Selanjutnya durasi juga tidak terlalu panjang. Bacaannya pun lebih pada surat-surat pendek.
"Demikian ceramahnya juga tidak panjang paling 7 sampai 10 menit untuk hindari pengumpulan terlalu lama, pengajian takjil juga tidak terlalu lama, setelah mendekati Maghrib baru mulai," katanya.
Kemudian, untuk jemaah lokal dan dari luar akan dipisah. Hal ini dilakukan demi mencegah penularan corona.
"Boleh semua masuk tapi antar jemaah tetap lokal dengan dari luar ada pembatasnya, sehingga tidak campur yang lokal paham, sudah tertib. Terhadap lain (jemaah luar) tidak bisa menjamin. Pengamatan kita, kalau masuk dijaga, masuk (masker) dipakai di dalam dilepas," katanya.
