kumparan
9 Januari 2018 18:19

Menulis vs Mengetik: Nilai Praktis dan Efeknya bagi Otak

Ilustrasi tulisan tangan
Ilustrasi tulisan tangan (Foto: Instagram @yiinstudyee)
Kapan terakhir kali Anda menulis tangan lebih dari satu halaman penuh? Sudah (terlalu) lama? Tak masalah, karena begitupun orang-orang lain di seluruh dunia.
ADVERTISEMENT
Salah satu indikatornya adalah survei yang dilakukan Docmail, perusahaan pengiriman surat sekaligus percetakan di Inggris, pada Juni 2014.
Survei terhadap 2 ribu orang Inggris tersebut menunjukkan, satu dari tiga responden sama sekali tidak menulis tangan lebih dari enam bulan lamanya. Selain itu, survei itu juga menunjukkan rata-rata responden sudah tidak menulis secara manual lebih dari 41 hari.
Temuan tersebut sebetulnya tak terlalu mengangetkan. Dengan kemajuan teknologi, akses terhadap gawai yang lebih mudah, dan aktivitas sehari-hari yang mengandalkan kecepatan serta kemudahan, kebutuhan menulis dengan tangan semakin tergantikan oleh kemudahan mengetik.
Mengetik --baik di gawai smartphone, tab, laptop, maupun personal computer-- dianggap lebih cepat dan mudah. Terlebih, dengan semakin berkembangnya teknologi di masa depan, tulisan tangan perlahan ditinggalkan.
ADVERTISEMENT
Dan pertanda bagaimana tulis tangan akan berkurang signifikansinya dimulai di --mana lagi kalau tidak-- Amerika Serikat.
Ilustrasi tulisan tangan bersambung
Ilustrasi tulisan tangan bersambung (Foto: Instagram @calligraphine_germany)
Amerika, negara yang juga melegalkan kepemilikan senjata pribadi itu telah menghilangkan materi tulis sambung (cursive writing) dari kurikulum sekolah dasar (Common Core Curriculum Standard). Hasilnya, sejak 2013, anak-anak di seluruh negara bagian AS sudah diwajibkan belajar menggunakan keyboard, namun tidak dengan tulisan sambung.
Tulis sambung, sebuah teknik tulis tangan di mana pulpen tidak harus diangkat untuk mempercepat waktu tulis, dinilai sudah tidak relevan lagi. Menulis tangan, oke, tapi tidak dengan tulis bersambung.
Memang, ada beberapa negara bagian di AS yang mencoba untuk melawan peraturan federal tersebut. Tujuh, tepatnya, yaitu California, Idaho, Indiana, Kansas, Massachusetts, North Carolina, dan Utah.
ADVERTISEMENT
Ada beberapa alasan mengapa negara-negara bagian tersebut mencoba mempertahankan tulis sambung, misalnya saja:
1) anak-anak Amerika tidak akan lagi bisa membaca kartu ucapan ulang tahun dari kakek-neneknya; 2) anak-anak Amerika tidak akan lagi bisa membaca komentar guru soal tugas mereka; dan 3) anak-anak Amerika tidak bisa membaca Declaration of Independence AS yang memang ditulis sambung.
Tentu saja, berbagai alasan tersebut (cukup) ditertawakan. “Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali membaca konstitusi AS,” ucap Steve Graham, profesor di bidang pendidikan di Arizona State University, seperti dikutip dari The Guardian.
Bagi mereka yang mendukung langkah pemerintah AS itu, menulis sambung tak lagi menjadi prioritas di era sekarang. “Tulis tangan perlu, tapi tidak dengan tulis sambung,” tulis Kate Gladstone di laman debat The New York Times.
ADVERTISEMENT
Gladstone merupakan Direktur Kontes Tulis Tangan Dunia, serta founder Handwriting That Works. Dalam tulisannya di The New York Times, Gladstone menilai tulis sambung tidak punya keunggulan dibanding tipe tulis tangan yang lain.
“Membaca tulisan bersambung bisa diajarkan ke anak-anak yang sudah bisa membaca dalam waktu relatif singkat, hanya 30 sampai 60 menit,” ucapnya. Gladstone menilai, tak perlu harus memproduksi tulisan serupa untuk bisa membacanya.
Ilustrasi tulisan tangan bersambung
Ilustrasi tulisan tangan bersambung (Foto: Flickr/BookMama)
Namun demikian, seluruh pihak --baik yang mendukung maupun yang menolak tulis sambung-- menilai menulis langsung menggunakan tangan adalah kemampuan penting. Meski menulis menggunakan keyboard adalah kemampuan yang menjadi kunci masa depan, menguasai kemampuan tulis tangan memberikan efek tersendiri bagi tubuh.
“Tulis tangan merupakan aktivitas yang membutuhkan berbagai keterampilan --merasakan pena dan kertas, menggerakkannya, mengimplementasikan bayangan tulisan di otak ke tangan, dan mengasah keterampilan gerak dari perintah otak,” ucap Edouard Gentaz, profesor di bidang pengembangan psikologi di Universitas Jenewa.
ADVERTISEMENT
Ini, menurutnya, beda dengan menulis menggunakan keyboard. “Perbedaannya sungguh besar. Tulisan tangan adalah hasil dari gerakan singular seluruh tubuh, beda dengan mengetik,” jelas Roland Jouvent, kepala psikiatri dewasa di Rumah Sakit Pitié-Salpêtrière, Paris, Prancis.
Berbeda dengan menulis, gerakan mengetik selalu sama apapun hurufnya: hanya sebatas memencet tombol. Padahal, kemampuan motorik yang terasah dengan menulis tangan amat dibutuhkan terutama ketika seseorang masih anak-anak.
Ilustrasi tulisan ketik
Ilustrasi tulisan ketik (Foto: Unsplash)
Marieke Longchamp dan Jean Luc Velay membuktikan bagaimana menulis menggunakan tangan punya dampak baik, khusus untuk anak-anak. Dua peneliti ilmu saraf kognitif di Aix-Marseille University, Prancis itu melakukan studi terhadap 76 anak umur 3 sampai 5 tahun.
Hasilnya, kelompok anak yang belajar menulis huruf dengan tangan punya kemampuan lebih baik dalam mengenali huruf ketimbang mereka yang menulis lewat komputer.
ADVERTISEMENT
Velay dan Longchamp kemudian mengulangi penelitian ini pada orang dewasa --dengan huruf Bengali dan Tamil --dan menemukan hasil yang sama.
Gentaz menilai, menggambar (karena menulis dengan tangan pun adalah bentuk “menggambar”) huruf dengan tangan meningkatkan pemahaman seseorang tentang bentuk abjad itu sendiri. Ini terjadi karena tubuh punya apa yang disebut dengan “body memory”.
“Beberapa orang akan mendapatkan kesulitan membaca abjad lagi setelah mereka menuliskannya. Untuk membantu mereka mengingat abjad itu lagi, kami meminta mereka melacak alur jejak (tulisan) dengan jari mereka. Sering kali ini membantu mereka --bukti bahwa gestur membantu mengembalikan memori,” ucap Gentaz dilansir The Guardian.
Ilustrasi tulisan ketik
Ilustrasi tulisan ketik (Foto: Unsplash)
Selain membantu belajar membaca, menulis tangan juga punya efek bagus agar seseorang memahami sebuah topik bahasan.
ADVERTISEMENT
Dalam sebuah jurnal yang dipublikasikan pada April 2014 di Psychological Science, dua peneliti AS Pam Mueller dan Daniel Oppenheimer mengklaim bahwa mencatat dengan pena membuat mahasiswa lebih memahami subjek bahasan ketimbang mencatat dengan laptop.
Penelitian tersebut dilakukan pada lebih dari 300 mahasiswa Princeton University, New Jersey dan University of California, Los Angeles. Hasilnya, mahasiswa yang mencatat dengan tangan berhasil menjawab pertanyaan dari dosen lebih baik ketimbang yang mencatat dengan laptop.
Bagi ilmuwan, hasil tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa yang mencatat di kertas menemui tahapan yang tak ditemukan pada mahasiswa yang menggunakan laptop. Untuk mencatat dengan tangan, mahasiswa harus melakukan proses awal, yaitu memahami dan mempersingkat ide.
Berkebalikan dengan itu, mahasiswa yang menggunakan laptop cenderung menuliskan banyak catatan. Bahkan, mereka kerap membuat transkrip literal (menulis ulang apa yang diucapkan dosen). Namun, cara kerja tersebut ternyata kalah efektif ketimbang menulis tangan, yang dengan sabar harus melalui pemahaman dan penyingkatan ide.
ADVERTISEMENT
=================== Simak ulasan mendalam lainnya dengan mengikuti topik Outline!
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan