Menyambangi Kampung 'Kembar' di Duren Sawit

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga Kampung Kembar, Malaka Jaya. (Foto: Andreas Ricky Febrian/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Warga Kampung Kembar, Malaka Jaya. (Foto: Andreas Ricky Febrian/kumparan)

Sebuah kampung di kawasan Malaka Jaya, Duren Sawit, Jakarta Timur menyimpan kisah menarik. Siapa sangka, dalam satu RW di kawasan padat penduduk tinggal 13 pasang orang kembar.

Mereka terdiri dari berbagai latar belakang dan usia. Ketua RW 3 Malaka Jaya, Andang Subaryono, menceritakan keunikan kampungnya ini bermula pada tahun 1993.

“Ceritanya pada tahun 1993, saat itu di Gang 3, ada 6 pasang anak kembar di sepanjang gang itu,” kata Andang ditemui di kediamannya, Sabtu (24/3).

Warga Kampung Kembar, Malaka Jaya. (Foto: Andreas Ricky Febrian/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Warga Kampung Kembar, Malaka Jaya. (Foto: Andreas Ricky Febrian/kumparan)

Namun, saat itu ia tak menyadari jika ada lebih banyak orang kembar. Andang mulai tinggal di wilayah tersebut sejak tahun 1981. Kemudian, pada tahun 2009 ia diangkat sebagai ketua RW.

Keberadaan orang kembar yang tinggal di kampungnya mulai disadari Andang saat melakukan pendataan pada tahun 2014. “Saat itu didata, dan ternyata ada 19 pasangan anak kembar di kampung ini,” jelasnya.

Akan tetapi saat ini orang kembar yang tinggal di kampung tersebut hanya tersisa 13 pasang. Ia menyebut banyak faktor yang melatarbelakangi pengurangan jumlah pasang orang kembar tersebut. “Ada yang pindah rumah, ada yang meninggal juga,” terang Andang.

Warga Kampung Kembar, Malaka Jaya. (Foto: Andreas Ricky Febrian/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Warga Kampung Kembar, Malaka Jaya. (Foto: Andreas Ricky Febrian/kumparan)

Pasangan kembar paling muda saat ini adalah Fani-Fina yang berusia 5 tahun. Sementara yang tertua adalah Pudjo Utomo dan Pudjo Wibowo yang telah menginjak usia 51 tahun.

“Kami di sini orangnya santai semua, kejadian unik tidak pernah ada. Hanya saja anak-anak kembar itu sering jadi bahan bercandaan, sudah pasti. Beberapa kali saya ketuker manggil orang,” ujar Andang sembari terkekeh.

Terkait nama Kampung Kembar, Andang mengaku bukan berasal dari warganya. Nama itu merupakan sebutan dari sejumlah wartawan yang pernah menceritakan keunikan penduduk di kampung itu.

“Jadi yang namain bukan saya atau warga, bukan. Yang namain ya wartawan yang meliput,” ujarnya.