Menyambangi Kolam Renang Tirta Krida yang Konon Memberi Tanda Gempa

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kolam Renang Krida. (Foto: Phaksy Sukowati/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Kolam Renang Krida. (Foto: Phaksy Sukowati/kumparan)

Kolam Renang Tirta Krida Juanda Sidoarjo, Jatim mendadak jadi bahan perbincangan. Sebuah video berdurasi lebih dari 2 menit menjadi penyebabnya. Dalam video itu, air kolam renang bergelombang hingga lebih dari 1 meter. Padahal tidak ada alat pembuat gelombang di kolam renang milik TNI AL tersebut.

Air gelombang di kolam renang itu terjadi pada 28 September sore, jelang gempa dan tsunami Palu, Sulteng. Isu merebak, apabila air di kolam renang itu bergelombang tinggi pertanda akan ada gempa besar.

Percaya enggak percaya dengan cerita itu, kumparan mendatangi kolam renang Tirta Krida, Jumat (5/10). Di lokasi, kumparan bertemu dengan Ikhsan yang juga penjaga kolam.

Zainudin Ikhsan sudah 20 tahun bekerja di Tirta Krida, dan dia adalah orang yang megambil video saat gelombang tiba-tiba muncul di kolam renang.

Ikhsan mengaku tidak tahu menahu, siapa yang mengunduh video yang dia rekam ke media sosial. Padahal, niatnya hanya merekam peristiwa langka yang selama ini sering dia saksikan sendiri.

Peristiwa langka gelombang di kolam itu akhirnya baru pertama kali ini diabadikan olehnya. Sedangkan fenomena terdahulu tak pernah dia ambil karena tak punya ponsel yang bisa merekam.

"Niat saya cuma merekam. Fenomena ini beberapa kali saya alami. Selama saya di sini," tutur Ikhsan.

Kolam Renang Krida. (Foto: Phaksy Sukowati/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Kolam Renang Krida. (Foto: Phaksy Sukowati/kumparan)

Ikhsan menggambarkan bahwa kolam berukuran 50x25 meter itu bergelombang dan berombak lebih dari 1 meter kurang lebih selama 30 menit.

Peristiwa ini terjadi pukul 17.10 WIB. Sesuai yang pernah dialaminya, Ikhsan menduga akan terjadi gempa atau tsunami di bagian Indonesia tertentu.

"Setelah itu kemudian saya langsung melihat berita di televisi bahwa benar terjadi gempa atau tsunami di Palu dan Donggala," katanya.

Ikhsan punya alasan mengapa langsung melihat berita. Rupanya bagi Ikhsan, gelombang di kolam renang selama ini tercatat di kepalanya menjadi sebuah pertanda. Tingginya gelombang beriak bahkan membawa juga pertanda khusus.

Misalnya fenomena yang dialami kali kolam tiba-tiba bergelombang dan berombak lebih dari 2 meter, rupanya bersamaan saat kejadian gempa dan tsunami di Aceh.

Kedua, kolam bergelombang dan berombak kurang dari satu meter, saat itu kejadian gempa di Nias.

Ketiga, kolam bergelombang dan berombak kurang dari satu meter, saat kejadian gempa di bantul, DI Jogjakarta.

Keempat, kolam bergelombang dan berombak kurang dari satu meter, saat kejadian gempa di Lombok. Kelima, kolam bergelombang dan berombak lebih dari 1 meter, saat kejadian gempa dan tsunami di Palu dan Donggala.

"Kalau dilihat beriaknya di atas satu tegel keramik. Maka gempanya besar dan tsunami. Kalau di bawahnya satu tegel hanya gempa biasa," imbuhnya.

"Hanya saja waktu itu saya belum punya ponsel apalagi yang ada kameranya. Jadi saat ini saya kasih keterangan berdasarkan pengalaman," ujarnya.

Sebagai catatan, di kawasan itu sendiri berdasarkan keterangan BMKG tak ada patahan gempa. Pihak TNI AL juga sudah memberi penegasan tak ada alat pembuat gelombang dipasang di kolam renang yang biasa dipakai anggota TNI AL berlatih ini.