Menyapa Pemburu Rezeki di Bukit Sampah TPAS Tamangapa, Makassar

Bau, kotor dan sarang penyakit. Sejumlah stigma yang biasanya pertama kali terlintas di benak kita saat mendengar kata "Tempat Pembuangan Sampah" atau TPS.
Tahukah kamu? Di balik gundukan sampah yang menggunung itu, terdapat ratusan bahkan mungkin ribuan orang yang menggantungkan hidup mereka dari sampah-sampah itu. Mereka naik ke bukit-bukit sampah, melakukan kegiatan memulung hingga proses memilah-milah sampah demi rupiah.
Fenomena tersebut bisa kita jumpai di banyak kota-kota besar, salah satunya Makassar, Sulawesi Selatan. kumparan bersama rekan-rekan dari Save The Childern Indonesia, berkesempatan mengunjungi TPAS Tamangapa yang berlokasi di Kecamatan Manggala, Senin (17/9).
TPAS seluas 16,8 hektar itu beralaskan tanah pasir, menampung 700-800 ton sampah setiap harinya. Debu pasir yang terbang digulung angin menyambut kedatangan kami siang itu, sekitar pukul 15.00 WIT.

Tak hanya membawa debu tebal, angin di hari yang terik itu tentu saja juga menyebarkan aroma tak sedap yang menusuk. Namun semuanya tampak tak jadi masalah bagi para pekerja di sana, meski sebagian besar beraktifitas tanpa masker penutup hidung.
Sejauh mata memandang, laki-laki dan perempuan, tua dan muda, sibuk berjibaku dengan pekerjaannya masing-masing di atas tumpukan sampah yang rupa-rupa. Ada yang mengeluarkan sampah-sampah dari motor dan truk sampah, ada yang mencari sampah-sampah yang masih layak didaur ulang, ada juga yang memisahkan sampah plastik dan sampah basah.
Masih di atas bukit-bukit itu, berdiri warung-warung kecil semi permanen yang terbuat dari kayu papan dan terpal. Warung-warung itu menjual beragam jenis minuman, makanan ringan, hingga mi instan.

Penjualnya adalah warga yang tinggal di kawasan TPAS, dan pembelinya mayoritas orang-orang yang bekerja di kawasan itu mulai dari para pemulung, hingga sopir truk sampah.
Berdasarkana data yang dihimpun Save The Childern melalui Yayasan Sayangi Tunas Cilik (YSTC) Makassar, ada 438 keluarga yang menggantungkan hidup mereka dari pekerjaan memulung. Mirisnya, lebih dari 400 anak terlibat aktivitas memulung, dieksploitasi dengan alasan membantu perekenomian keluarga.

Manajer Program Perlindungan Anak YSTC "BRIGHT" (Bring and Gift Hope Outside of Trash), Ikhwana Mustafa menyebut, sebagian besar keluarga pemulung di sana bukan warga asli Makassar. Mereka imigran dari sejumlah wilayah di Makassar yang sengaja datang mencoba peruntungan uang di TPAS Tamangapa.
"Mereka masyarakat yang datang dari luar Makassar, wilayah tetangga-tetangganya Makassar seperti Bulukumba dan Jeneponto. Mereka bermigrasi ke sini mencari nafkah karena TPA menjadi memang meggiurkan," ujar Ikhwana saat ditemui di lokasi.
"Cari uang di TPA bisa dengan mudah. Kalau mau beli pulsa, misalnya, cari korek-korek saja sampah dan lalu timbang. Dapatlah itu Rp 20-50 ribu sehari," imbuhnya.
Oleh sebab mereka bukan penduduk Makassar, akses untuk mendapatkan beragam fasilitas dan bantuan kesejahteraan hingga kesehatan dari pemerintah pun otomatis sulit.
"Menjadi sangat sulit untuk (mereka mendapat) perlindungan sosial. Termasuk (merasakan) program-program pemerintah misalnya PKH, KIP dan KIS," ungkapnya.

YTAC tak memungkiri, butuh kerja sama yang kooperatif dari para pekerja di TPAS Tamangapa untuk meningkatkan kondisi perkonomian sekaligus status sosial mereka. Hal itu menjadi salah satu tujuan lain (selain perlindungan) dari BRIGHT, yakni meningkatkan kapasitas rumah tangga untuk menginisiasi sumber penghasilan alternatif.
"Kita memperkenalkan apa sebenarnya usaha-usaha alternatif yang bisa dilakukan keluarga (orang tua). Hingga saat ini sudah ada 4 kelompok besar yang sudah menginisasi ide bisnis mereka berdasar kemampuan yang mereka miliki," paparnya.
"Sudah ada lebih dari 100 keluarga yang dilatih bisnis. Ada yang ide usahanya laundry, jual beras, ada juga yg ingin jadi pengepul besi," tutupnya.
