Menyulap Kolong Tol Penuh Sampah Jadi Kebun Sayur

Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara, lekat dengan stigma kawasan pelabuhan dan aktivitas yang padat. Namun, di tengah rapatnya permukiman warga, sebuah lahan di bawah kolong tol kini justru dipenuhi tanaman hijau dan warna-warni sayuran.
Tepatnya di Jalan Warakas 5, Gang 6, RT 005/RW 009, Kelurahan Warakas, Kecamatan Tanjung Priok. Lahan di bawah Tol Tanjung Priok yang sebelumnya dipenuhi sampah itu kini disulap warga menjadi taman sekaligus kebun sayur.
Berbagai tanaman tumbuh di sana, mulai dari sawi, bayam merah, bayam hijau, kangkung, hingga terong. Warga juga mengembangkan tanaman hidroponik dan mulai membudidayakan ikan lele.
Di balik perubahan tersebut, ada peran warga yang bersama-sama merawat lahan agar tetap bersih dan produktif. Salah satunya adalah Ketua RT 05/RW 09 Kelurahan Warakas, Tely (57).
Tely bercerita, lahan tersebut merupakan milik Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP). Sebelum dimanfaatkan menjadi kebun, area itu kerap dijadikan tempat pembuangan sampah oleh masyarakat.
"Awal mulanya ini kan memang lahan CMNP, cuma begitu banyak sampah pada waktu itu karena masyarakat dari mana saja buang sampah ke sini," kata Tely saat ditemui kumparan, Minggu (4/10).
Melihat kondisi tersebut, warga berinisiatif memanfaatkan lahan kosong di sekitar tempat tinggal mereka. Inisiatif itu juga sejalan dengan dorongan pemerintah untuk menjadikan lahan terbengkalai sebagai ruang yang lebih produktif.
"Bagaimana kita sebagai masyarakat yang tinggal di sekeliling kolong tol ini mempergunakan lahan ini? Dengan adanya program pemerintah mempergunakan lahan kosong, ya itulah yang kami pergunakan," ujar Tely.
Upaya pemanfaatan lahan itu semakin aktif sejak 2019. Warga mulai menanam berbagai jenis sayuran bersama-sama. Hasilnya pun dibagikan kepada masyarakat sekitar.
"Lebih aktifnya lagi tahun 2019 pas musim COVID, kami mengajak masyarakat untuk nanam bersama dan hasilnya dibagikan ke masyarakat lagi," tutur Tely.
Bagi Tely, mengubah lahan yang semula menjadi tempat pembuangan sampah bukan sekadar upaya memperindah lingkungan. Dia ingin menciptakan kawasan yang lebih bersih dan sehat sekaligus mengajak masyarakat menghentikan kebiasaan membuang sampah sembarangan.
"Karena ini kan masuk lingkungan kumuh di sekeliling kolong tol. Motivasi utamanya untuk mendukung program pemerintah mempergunakan lahan kosong dan mengajak masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan, supaya lingkungan bersih dan sehat," kata Tely.
Ada pula alasan lain yang mendorong warga mempertahankan aktivitas di lahan tersebut. Tely berharap kebun itu bisa menjadi ruang bagi kegiatan positif sekaligus membantu mencegah kenakalan remaja, termasuk penyalahgunaan narkoba.
"Kita ingin menghindari kenakalan remaja, khususnya narkoba. Daripada anak-anak luar masuk ke sini, kita buat kebun. Kalau bukan kita yang menjaga lingkungan, siapa lagi?" ungkapnya.
Tanam Sayur hingga Budidaya Lele
Kini, lahan di bawah kolong tol itu menjadi kebun yang dimanfaatkan warga untuk menanam berbagai jenis sayuran. Sawi, bayam merah, bayam hijau, kangkung, dan terong menjadi sejumlah tanaman yang dibudidayakan.
"Kita mengutamakan sayur-sayuran. Ada sawi, bayam merah, bayam hijau, kangkung, dan terong," kata Tely.
Warga juga mencoba metode hidroponik untuk menanam sayuran. Selain itu, mereka mulai merintis budidaya ikan lele yang masih dalam tahap awal.
"Ada juga sayuran hidroponik yang baru saja dipanen. Selain itu ada bibit lele yang baru berumur dua minggu," ujarnya.
Kegiatan berkebun tersebut terutama dijalankan oleh warga setempat. Dalam perkembangannya, mereka juga mendapat dukungan dari pemerintah, khususnya pihak Kelurahan Warakas.
"Terutama warga masyarakat kita sendiri. Kalau dari program pemerintah, terutama dari pihak kelurahan karena Bu Lurah sangat antusias dengan program pemerintah/Gubernur untuk memanfaatkan lahan kosong," tutur Tely.
Hasil panen tidak seluruhnya dibagikan secara gratis. Sebagian sayuran dijual untuk membiayai kebutuhan operasional kebun, termasuk pembelian bibit dan pupuk.
"Diperjualbelikan, karena uangnya dipakai lagi untuk membeli bibit dan pupuk," ujar Tely.
Meski demikian, pemasaran hasil kebun masih terbatas. Sayuran biasanya dijual kepada pihak kelurahan dan warga yang tinggal di sekitar taman.
"Karena masih skala kecil, biasanya dijual ke kelurahan (Bu Lurah yang beli) dan ke masyarakat sekeliling kita saja," katanya.
Berharap Pemilik Lahan Ikut Memperhatikan
Di balik perubahan wajah lahan tersebut, Tely berharap pemiliknya turut memberikan perhatian terhadap kebun yang selama ini dirawat warga. Menurutnya, keberadaan kebun juga membantu menjaga lahan agar tidak kembali menjadi tempat pembuangan sampah.
"Kami sangat mengharapkan kepedulian dari pemilik lahan, yaitu CMNP. Selama ini CMNP kurang memonitor. Padahal kita bantu menjaga lingkungan mereka agar tidak menjadi tempat buang sampah," kata Tely.
Dia menilai, upaya warga memanfaatkan lahan untuk kegiatan produktif semestinya mendapat perhatian dari pemilik lahan. Setidaknya, CMNP diharapkan ikut memantau kondisi area tersebut.
"Seharusnya mereka bersyukur lahannya dipergunakan untuk hal positif oleh masyarakat, tetapi seenggaknya mereka bisa ikut memonitor kita," ungkapnya.
