Menyusuri Dayeuhkolot, Daerah Langganan Banjir Tiap Hujan Deras Guyur Bandung
·waktu baca 3 menit

Hujan deras mengguyur Bandung pada Kamis (23/10) siang hingga malam membuat anak Sungai Citarum, yakni Sungai Cipalasari, meluap. Imbasnya rumah warga di Kampung Bojongasih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, terendam banjir hingga 1 meter.
Air kiriman dari wilayah Kota Bandung menyebabkan genangan di beberapa titik.
Ketinggian air bervariasi antara 40 sentimeter hingga 1 meter, merendam rumah-rumah warga dan mengganggu aktivitas harian. Sejumlah siswa SDN Bojongasih 2 bahkan terpaksa diliburkan karena ruang kelas turut tergenang.
Langganan Banjir
Bagi warga Bojongasih, banjir seperti ini bukan hal baru.
Nana Junjana (58), warga setempat, mengatakan banjir datang minimal sekali dalam setahun.
“Ini banjir dari kemarin, baru sekarang-sekarang naik. Biasa aja, setiap tahun pasti begini,” kata Nana saat ditemui di depan rumahnya, Jumat (24/10).
Menurut Nana, air mulai naik sekitar pukul delapan malam. Ia menilai, Dayeuhkolot kerap dilanda banjir karena tak memiliki sistem tampungan air memadai seperti daerah lain.
“Citarum udah besar, tapi di sini nggak ada penampung air. Kalau di Ciputat mah udah punya tiga penampungan air, jadi nggak banjir,” ujarnya.
Meski rumah Nana berada di lokasi yang agak tinggi, air di jalan depan rumahnya sudah setinggi paha orang dewasa. Ia berharap pemerintah daerah memprioritaskan penanganan banjir dibanding perbaikan jalan.
“Daripada perbaiki jalan, mending beresin dulu masalah banjir, khususnya di Citarum ini. Karena airnya kan kiriman dari Bandung. Intinya mah segera diatasi,” tutur Nana.
Selalu Siaga Ketika Hujan Deras
Warga lain, Septian Amirudin (32), mengaku sudah terbiasa menghadapi banjir kiriman dari Kota Bandung. Begitu hujan deras turun, ia langsung memindahkan barang-barang berharga ke tempat yang lebih tinggi.
“Motor saya udah dipindahkan ke rumah saudara pas hujan kemarin malam. Kalau hujannya gede banget, udah pasti air kiriman datang,” ujarnya.
Menurut Septian, banjir di Bojongasih biasanya datang tiba-tiba. Karena itu, ia selalu menyiapkan pakaian, perlengkapan mandi, dan kebutuhan dasar di tempat aman. Bila air terus naik, ia memilih mengungsi ke rumah saudaranya atau bermalam di masjid.
“Udah biasa, udah bertahun-tahun juga. Jadi kita mah udah bisa beradaptasi,” katanya.
Tetap Buka Warung meski Terendam
Banjir juga tak menyurutkan langkah Marni Aisah (48) untuk tetap membuka warung kelontongnya.
“Ya gimana lagi, usaha saya sama suami. Warga juga kadang masih butuh sesuatu,” katanya.
Marni sudah lebih dari 25 tahun tinggal di Bojongasih. Selama itu pula, banjir menjadi bagian hidupnya. Menurutnya, banjir kiriman dari Bandung selalu datang setahun sekali, terutama saat hujan deras dan lama.
Ia menuturkan, pendapatan warung biasanya menurun saat banjir karena warga sudah menyiapkan kebutuhan rumah tangga lebih dulu.
“Paling kalau pagi-pagi ada yang beli minyak goreng atau beras. Tapi selebihnya sepi. Kalau disebut berkurang penghasilan ya emang gitu, mau gimana lagi,” ujarnya.
Perlu Solusi Jangka Panjang
Warga berharap pemerintah segera mencari solusi jangka panjang untuk mengatasi banjir tahunan di Dayeuhkolot.
Keberadaan kolam retensi dan sistem drainase yang memadai dinilai penting agar genangan air tidak lagi merendam permukiman setiap musim hujan.
