Menyusuri Guiding Block di Jakbar: Tak Ramah Disabilitas, Diadang Tiang Listrik

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 1 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rambu kuning trotoar bagi penyandang disabilitas berjalan kaki di Jakarta Barat, Senin (27/10/2025). Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Rambu kuning trotoar bagi penyandang disabilitas berjalan kaki di Jakarta Barat, Senin (27/10/2025). Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan

Rambu kuning di trotoar sejatinya disediakan untuk membantu penyandang disabilitas netra berjalan kaki dengan aman. Jalur berpola timbul itu biasa ditemukan di trotoar kawasan perkotaan.

Namun, fasilitas tersebut belum sepenuhnya ramah bagi tuna netra. Di Jalan Dr. Susilo Raya dan Jalan Letjen S. Parman, Jakarta Barat, misalnya, jalur kuning itu tertutup toko kelontong dan kendaraan yang parkir sembarangan.

Ada pula rambu yang justru mengarah ke tiang listrik atau melewati trotoar rusak. Kondisi ini berpotensi membahayakan pengguna.

Rambu kuning trotoar bagi penyandang disabilitas berjalan kaki di Jakarta Barat, Senin (27/10/2025). Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan

Salah seorang pejalan kaki, Wina Saputri (27), menilai trotoar di Jakarta belum benar-benar aman bagi tuna netra. Ia menyarankan agar penyandang disabilitas netra tidak berjalan sendirian di jalan umum.

“Kalau bisa sama keluarganya dipandu. Kalau jalan sendiri bahaya juga,” ujarnya saat ditemui kumparan, Senin (27/10).

Pendapat serupa disampaikan Ajil (19). Ia mengaku memiliki anggota keluarga penyandang disabilitas netra dan berharap pemerintah segera memperbaiki jalur tersebut.

“Saudara ada (tuna netra). Kalau pergi ke warung diantar. Kalau sendiri bahaya,” kata dia.

Rambu kuning trotoar bagi penyandang disabilitas berjalan kaki di Jakarta Barat, Senin (27/10/2025). Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan
Rambu kuning trotoar bagi penyandang disabilitas berjalan kaki di Jakarta Barat, Senin (27/10/2025). Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan

Ajil menambahkan, pemerintah tidak seharusnya menunggu ada korban sebelum memperbaiki fasilitas publik.

“Jangan nunggu korban dulu. Jakarta harusnya jadi tempat yang nyaman dan aman buat semua,” ujarnya.