Merasa Tak Dilindungi, Armenia Ancam Keluar dari Blok Keamanan Bentukan Rusia

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
PM Armenia, Nikol Pashinyan. Foto: Aris Messinis/AFP
zoom-in-whitePerbesar
PM Armenia, Nikol Pashinyan. Foto: Aris Messinis/AFP

Armenia menyatakan siap mundur dari koalisi keamanan bentukan Rusia Collective Security Treaty Organisation (CSTO). Langkah itu diduga dipicu kurangnya dukungan perlindungan Rusia terhadap Armenia.

Dalam beberapa waktu terakhir Armenia menyatakan ketidakpuasannya atas perlindungan Rusia, saat mereka mendapat ancaman dari Azerbaijan. Armenia dan Azerbaijan terlibat konflik di wilayah sengketa Nagorno-Karabakh.

"Saya tidak akan mengesampingkan bahwa Armenia bisa mengambil keputusan untuk mundur dari CSTO, bila blok itu gagal memenuhi kewajiban perjanjiannya," kata Perdana Menteri Nikol Pashinyan seperti dikutip dari AFP.

Prajurit Rusia menghadiri upacara penarikan pasukan penjaga perdamaian Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif (CSTO) dari Kazakhstan, di Almaty, Kazakhstan, Kamis (13/1). Foto: Pavel Mikheyev/REUTERS

Pernyataan Pashinyan dilontarkan jelang pertemuannya dengan Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev di Moskow pada Kamis (25/10). Pertemuan itu dimediasi oleh Presiden Rusia Vladimir Putin.

Meski pertemuan Kamis mendatang Putin akan menjadi penengah, Armenia juga berupaya meminta bantuan Barat demi membantu penyelesaian krisis di Nagorno-Karabakh.

"Kami memulai diskusi tentang masalah keamanan dengan mitra Barat kami karena kami melihat sistem keamanan di wilayah ini tidak berfungsi," ucap Pashinyan.

Armenia dan Azerbaijan terlibat pada dua perang yaitu pada 2020 dan 1990. Mereka berupaya mengendalikan Nagorno-Karabakh secara penuh.

Pada 2020 lalu perang selama enam pekan di Nagorno-Karabakh berakhir melalui perantara Rusia. Armenia harus kehilangan sebagian besar wilayahnya akibat perang tersebut.

Kegagalan itu membuat hubungan Armenia-Rusia memburuk. Padahal Armenia menggantungkan perekonomian dan dukungan militer pada Rusia.

Armenia kemudian menuding Moskow gagal memenuhi kewajiban menjaga perdamaian di Nagorno-Karabakh.