Merayu Warga Beralih ke Transportasi Umum Lewat Park and Ride MRT

kumparanNEWSverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana di Park and Ride Fatmawati, Jakarta. Foto: Muhammad Darisman/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana di Park and Ride Fatmawati, Jakarta. Foto: Muhammad Darisman/kumparan

Pemprov DKI Jakarta tengah gencar-gencarnya merayu warga beralih menggunakan transportasi umum. Hal ini merupakan salah satu upaya untuk menekan kemacetan dan polusi udara.

Berbagai program demi upaya ke arah sana dikebut oleh Dinas Perhubungan DKI Jakarta. Sebut saja integrasi angkutan umum, uji coba jaringan jalur sepeda, hingga menyediakan lahan parkir yang dikenal dengan sebutan park and ride di beberapa stasiun Moda Raya Terpadu (MRT).

video youtube embed

Pada dasarnya, park and ride dibangun untuk memfasilitasi warga yang tinggal di wilayah satelit Jakarta, seperti Depok, Bogor, Tangerang, dan Bekasi. Mereka bisa memarkir kendaraan di park and ride lalu melanjutkan perjalanan dengan transportasi umum menuju kantor, tempat kerja, atau tempat tujuan lain.

kumparan menyambangi tiga lokasi park and ride yang terintegrasi dengan Stasiun MRT Fatmawati dan Lebak Bulus. Dua park and ride mengadopsi nama kedua stasiun itu (milik pemda), satu lagi Park and Ride South Quarter (swasta) yang letaknya di antara kedua stasiun tersebut.

Park and Ride South Quarter, Jakarta. Foto: Muhammad Darisman/kumparan

Kapasitas dan fasilitas setiap park and ride juga berbeda-beda. Park and Ride South Quarter bisa menampung maksimal 60 mobil dan 30 motor. Meski terbilang kecil, park and ride ini terbilang paling rapi.

Lantainya sudah menggunakan paving block. Jarak antar kendaraan juga sudah diatur sangat rapi dengan garis pandu di setiap slot parkirnya. Tapi, tidak ada kanopi yang menutupi kendaraan.

Mobil yang diparkir di Park and Ride Sout Quarter, Jakarta. Foto: Muhammad Darisman/kumparan

Sebagian mengakali ruang kabin agar tak langsung kena sinar matahari dengan menutup kaca depan menggunakan kardus, atau penutup lainnya.

"Rata-rata per hari mobil itu 35 sampai 40. Motor misalkan kurang lebih sekitar 15 per hari," jelas Ahmad, salah satu pengelola Park and Ride South Quarter, Selasa (22/10).

Suasana di Park and Ride South Quarter, Jakarta. Foto: Muhammad Darisman/kumparan

Kelebihan lain dari lahan parkir yang berjarak 900 meter dari Stasiun Fatmawati dan 2,4 kilometer dari Stasiun Lebak bulus ini. Warga tak perlu khawatir berjalan kaki terlalu jauh karena ada bus pengumpan yang disediakan khusus dari park and ride menuju ke stasiun.

Selain itu, area ini memang dikhususkan bagi pengguna MRT lewat pembayaran yang hanya bisa menggunakan kartu sekali jalan (single trip) MRT.

Park and Ride Lebak Bulus

Suasana di Park and Ride Lebak Bulus, Jakarta. Foto: Muhammad Darisman/kumparan

Beralih ke Park and Ride Lebak Bulus. Secara kapasitas, lahan yang terbentang memanjang di bawah kolong jalur MRT ini jadi yang paling luas dibanding lainnya. Aksesnya juga paling dekat dengan stasiun, yakni 250 meter.

"Motor seribu lebih rata-rata sehari. Mobil 100-an, sepeda masih jarang. Kalau kapasitas maksimal itu untuk motor 1.200, mobil bisa sampai 150 unit," jelas Sriningsih, pegawai Dishub yang bertugas sebagai admin parkir Park and Ride Lebak Bulus.

Suasana di Park and Ride Lebak Bulus, Jakarta. Foto: Muhammad Darisman/kumparan

Lahan parkir ini beralas coran kerikil kasar. Bagi warga yang beruntung, kendaraannya akan terlindungi dari sinar matahari karena posisi parkir berada di bawah jalan layang MRT atau jalan tol.

Suasana di Park and Ride Lebak Bulus, Jakarta. Foto: Muhammad Darisman/kumparan

Sistem pembayarannya masih menggunakan karcis kertas. Setiap masuk, pengendara harus memencet tombol untuk mengambil karcis parkir.

Park and Ride Fatmawati

Suasana di Park and Ride Fatmawati, Jakarta. Foto: Muhammad Darisman/kumparan

Beralih ke park and ride Fatmawati. Lokasi ini yang paling baru di antara yang lainnya. Lahannya juga masih beralas tanah. Sebagian di antaranya bahkan masih terdapat rumput yang cukup lebat.

"Untuk mobil bisa menampung 100 unit. Sepeda motor belum disiapkan khusus karena memang belum banyak yang parkir di sini," supervisor Park and Ride Fatmawati, Adi.

Karena baru, fasilitasnya pun terbilang seadanya. Pintu masuk parkir juga belum menggunakan gardu bersistem. Masih menggunakan karcis manual yang disiapkan oleh petugas di pintu masuk.

Tarif Mulai Rp 1.000

Ketiga park and ride itu tarifnya sama. Rp 5.000 untuk mobil, Rp 2.000 untuk motor, dan Rp 1.000 untuk sepeda. Khusus untuk park and ride di South Quarter, pengguna sepeda gratis.

"Tidak ada sewa atau parkir menginap," kata Ahmad.

Pengguna park and ride, Reza. Foto: Muhammad Darisman/kumparan

Tarif yang murah ini tentu sangat menggiurkan bagi warga. Reza, salah satunya. Warga Cinere, Depok, ini sebelumnya memilih parkir di parkiran umum di kawasan Ragunan, Jakarta Selatan. Sehari antara Rp 15.000-Rp 20.000.

Dia memarkir motornya di kawasan Ragunan untuk melanjutkan perjalanan menuju kantornya di Sudirman dengan TransJakarta. Kini, dia bisa memarkir mobilnya di park and ride lalu melanjutkan perjalanan dengan MRT.

"Begini lebih hemat. Cuma Rp 2.000 per hari," kata Reza di Park and Ride South Quarter.

Pengguna park and ride, Fauzi. Foto: Muhammad Darisman/kumparan

Warga lainnya, Fauzi, memilih berangkat dari rumahnya di Ciputat menuju ke Park and Ride Lebak Bulus. Untuk menuju ke pusat kota, dia tinggal memilih antara naik MRT atau naik TransJakarta. Tergantung tempat tujuan.

"Saya menggunakan fasilitas parkir ini hampir setiap hari karena saya berangkat kerja ke Jakarta. Alhamdulillah ini cukup membantu karena biaya parkirnya juga murah. Kami bisa menggunakan fasilitas MRT atau menggunakan busway (TransJakarta)," ujar wirausahawan itu.

Selain dinilai hemat dari segi biaya, ada juga pengguna yang memilih beralih atas alasan menghemat waktu. Alasan itulah yang membuat Anto, seorang pengusaha, memilih menitipkan mobil, lalu menggunakan MRT untuk membantu mobilitasnya ke pusat kota.

"Biasa parkir mobil di Park and Ride Lebak Bulus, untuk meeting di Thamrin naik MRT. Sangat membantu menghemat waktu dan menghindari macet," jelasnya.

Dengan harga yang cukup murah, memang tak banyak fasilitas yang didapat warga. Untuk menyiasati itu, pelanggan berinisiatif sendri membungkus helm dengan plastik, menutupi kaca depan mobil menggunakan dus, hingga menyarungkan motor dengan selimut agar tak terkena panas.

Tiadanya kanopi disiasati oleh pelanggan dengan memarkir kendaraan tepat di bawah kolong jalur MRT. Keberadaan dua jalur MRT di atas Park and Ride Lebak Bulus setidaknya dapat menguntungkan sebagian pelanggan.

Pengguna park and ride, Dinda Maisya. Foto: Muhammad Darisman/kumparan

Ada persoalan yang dikeluhkan selain tak adanya atap tersebut. Dinda Maisya, seorang mahasiswi, mengaku beberapa kali sepeda motornya berpindah dari posisi semula ia memarkirkan.

"Saya beberapa kali pernah kayak dipindah gitu posisi motornya. Mungkin bisa dikasih tahu bakal ada pindahan atau gimana, jadi saya enggak panik juga," ujar mahasiswi yang saat ini kuliah di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat.

Halte di kawasan Park and Ride South Quarter, Jakarta. Foto: Muhammad Darisman/kumparan

Ketersediaan park and ride MRT diharapkan dapat menjadi salah satu rayuan Pemprov DKI Jakarta agar warga beralih ke transportasi umum. Catatan Dinas Perhubungan September 2019, pengguna MRT saat ini rata-rata mencapai 91.083 orang per hari. MRT pernah mencapai catatan tertinggi, yakni 125.159 penumpang per hari.