Meredam Konflik Gajah Vs Manusia di Aceh

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kawanan gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) liar berada di perkebunan warga di Desa Negeri Antara, Kecamatan Pintu Rime, Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Foto: Irwansyah Putra/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Kawanan gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) liar berada di perkebunan warga di Desa Negeri Antara, Kecamatan Pintu Rime, Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Foto: Irwansyah Putra/ANTARA FOTO

Sejak 2011 hingga hari ini, konflik manusia dengan gajah liar masih terus terjadi di Kabupaten Bener Meriah Provinsi Aceh. Tidak sedikit tanaman perkebunan, tempat tinggal yang dirusak oleh satwa berbelalai itu.

Gajah-gajah liar di dataran tinggi Gayo itu bukan hanya mengobrak-abrik tanaman di kebun warga, kawanan satwa berbadan besar itu juga merusak tanaman di pekarangan Sekolah Dasar yang berada di pinggiran jalan nasional Bireuen-Takengon.

Warga melintas di samping panflet yang dibuat untuk meningkatkan kewaspadaan di daerah rawan konflik gajah di Desa Blang Rakal, Bener Meriah. Foto: Irwansyah Putra/ANTARA FOTO
Seekor gajah sumatra di pinggiran hutan Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Foto: Irwansyah Putra/ANTARA FOTO

Berdasarkan data Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh sejak lima tahun terakhir konflik gajah liar yang memasuki pemukiman dan merusak perkebunan warga mengalami peningkatan bukan hanya di Kabupaten Bener Meriah, namun gangguan dari satwa dilindungi itu juga terjadi di beberapa daerah lain seperti Pidie, Aceh Utara, Aceh Timur dan Kabupaten Aceh Jaya.

Pada 2015 terjadi 39 kali konflik, pada 2016 bertambah menjadi 44 kali. Angka itu meningkat menjadi 103 kasus pada 2017 dan menurun pada 2018 menjadi 73 kasus, namun kembali meningkat pada 2019 dan 2020 dengan catatan 107 kasus.

Tim penanganan konflik gajah dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh melaksanakan patroli dengan menggunakan gajah jinak. Foto: Irwansyah Putra/ANTARA FOTO
Petugas Conservation Response Unit (CRU) DAS Peusangan melihat rumah warga yang dirusak kawanan gajah sumatra liar di Desa Blang Rakal, Bener Meriah, Aceh. Foto: Irwansyah Putra/ANTARA FOTO

“Upaya penanganan konflik dengan melakukan patroli dan menggiring kawanan gajah liar dengan gajah jinak bahkan memindahkannya ke lokasi yang jauh dari pemukiman penduduk juga terus kami lakukan,” kata Koordinator Conservation Response Unit (CRU) DAS Peusangan Kabupaten Bener Meriah Syahrol Rizal.

CRU DAS Peusangan dibantu Pusat Latih Gajah (PLG) Saree selalu mengerahkan empat ekor gajah terlatih untuk menggiring kawanan gajah liar yang secara rutin memasuki pemukiman penduduk setiap tahunnya.

Petugas dari tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh menyuntikan anti dot pada gajah liar saat evakuasi pemindahan ke lokasi yang lain (translokasi) di Bener Meriah, Aceh. Foto: Irwansyah Putra/ANTARA FOTO
Seekor gajah liar yang ditangkap Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh dipindahkan ke lokasi yang lain (translokasi) dengan menggunakan alat berat di Bener Meriah. Foto: Irwansyah Putra/ANTARA FOTO
Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh bersama warga membakar mercon saat melakukan pengusiran dan memindahkan gajah liar ke lokasi yang lain (translokasi) di Bener Meriah, Aceh. Foto: Irwansyah Putra/ANTARA FOTO
Bangkai gajah Sumatera (Elephas maximus sumatrensis) yang mati di kawasan Hutan Desa Alue Meuraksa. Foto: ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas
Dokter hewan melakukan otopsi untuk menyelidiki penyebab kematia gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) jinak yang mati mendadak di kawasan Conservation Response Unit (CRU) Sampoiniet, Aceh Jaya, Aceh, Kamis (13/8). Foto: CHAIDEER MAHYUDDIN/AFP
Seorang anggota polisi mengawasi penjaga hutan yang membersihkan gading gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) jinak yang mati di kawasan Conservation Response Unit (CRU) Sampoiniet, Aceh Jaya, Aceh, Kamis (13/8). Foto: CHAIDEER MAHYUDDIN/AFP
Populasi gajah Sumatera menurun. Foto: ANTARA FOTO/FB Anggoro

Menurutnya, BKSDA Aceh melalui CRU bersama pemerintah setempat membentuk dan menurunkan tim penanggulangan setiap kali kawanan gajah liar yang mencapai 40 ekor lebih memasuki pemukiman dan merusak tanaman perkebunan serta mengejar para petani.

Peningkatan konflik gajah yang masih berlanjut hingga pertengahan 2021 dikhawatirkan akan berdampak terhadap kelestarian dan menyusutnya habitat satwa langka dan dilindungi itu.

***

Teks dan Foto : Irwansyah Putra Editor Foto : Fanny Octavianus