Mereka yang Lebih Hebat dari Wonder Woman di Kehidupan Nyata

Sosok Wonder Woman yang diperankan oleh Gal Gadot pada film terbaru yang dirilis oleh Warner Bros studio, digambarkan sebagai sosok perempuan cantik yang merupakan anak dari Dewa Zeus. Ia tak segan untuk ikut bertarung di medan perang dan juga memiliki kekuatan super.
Tapi sebagaimana yang diketahui, sosok Wonder Woman hanya sebuah karakter fiktif yang diciptakan. Namun, sejarah mencatat, kaum perempuan telah terlibat bahkan menginisiasi sebuah strategi militer dan ikut bertarung medan perang, hingga memimpin pasukan baik pria maupun perempuan. Hal ini membuktikan perempuan bisa menjelma menajdi seorang pejuang dan pemimpin yang terampil dan hebat.
[Baca juga: 5 Wonder Woman di Dunia Nyata dari Masa ke Masa]
Dilansir livescience.com setidaknya ada beberapa tokoh perempuan yang tercatat sebagi pejuang hebat. Berikut adalah beberapa contoh dari para pejuang wanita yang luar biasa itu:

1. Fu Hao
Sosok perempuan asal China yang diperkirakan hidup 3.000 tahun lalu ini diketahui sebagai jenderal perempuan yang paling dikenal pada masa Dinasti Shang.
Arkeolog belajar lebih banyak lagi tentang pangkat militer dan kemampuan Fu Hao saat mereka menemukan makamnya di dekat Anyang, China, pada tahun 1976. Lebih dari 100 senjata ditemukan terkubur di makamnya,
Temuan itu mempertegas statusnya sebagai pemimpin militer tingkat tinggi. Makamnya juga mencakup ribuan benda hias dan bejana perunggu, batu giok, tulang, opal dan gading, serta sisa-sisa 16 budak yang dikuburkan hidup-hidup untuk melayaninya di alam baka.

2. Boudicca
Pada awal masehi pendudukan Romawi menginvasi wilayah selatan Inggris. Muncul seorang perempuan bernama Boudicca yang memimpin orang-orang Iceni, sebuah suku di wilayah timur Inggris untuk melakukan pemberontakan melawan kamu Romawi.
Aksi Boudicca antara lain dengan meruntuhkan permukiman Romawi di Verulamium, Londinium dan Camulodunum, dan secara brutal membantai penduduknya. Namun dikutip dari Encyclopedia Brittanica, Boudicca dan tentaranya kalah di Pertempuran Watling Street dekat Shropshire, pada tahun 61 M itu. Kekalahan itu sekaligus mengakhiri pemberontakan Romawi melawan Roma.
Seorang sejarawan Romawi, Publius Cornelius Tacitus (56 - 117 Masehi) menggambarkan kemunculan Boudicca sebagai pemberontak dan pemimpin ketika orang-orang Romawi menyita tanahnya dan mencabut status suku tersebut sebagai sekutu Romawi, setelah kematian suaminya, raja Iceni Prasutagus.
3. Gudit
Seorang sejarawan bernama Ibn Haukal menulis tentang seorang ratu yang memerintah Abyssinia--sekarang Ethiopia-- pada abad kesepuluh. Penelitiannya ditulis pada tahun 980 M menyebutkan seorang ratu Ethiopia yang berkuasa dengan membunuh raja saat itu dan yang kemudian memrintah selama beberapa dekade.
Dalam penelitian tersebut dikatakan, ia berkampanye melawan orang-orang Kristen dan memenjarakan banyak orang Ethiopia, membakar kota-kota, dan menghancurkan gereja-gereja.
Pada sebuah jurnal bernama Bulletin of School of Oriental and African Studeis yang diterbitkan pada tahun 2000, mengatakan bahwa diketahui dari sejarah dan tradisi Ethiopia yang relatif baru bahwa Ethiopia pernah diperintah oleh seorang ratu bernama Gudit, Yodit, Isat atau Ga'wa."
Namun, tidak diketahui jelas dari mana ratu prajurit ini berasal. Dalam beberapa studi ilmiah mengklaim bahwa dia merupakan keturunan Yahudi atau dari pernikahan dengan orang Yahudi.

4. Tomoe Gozen
Legenda samurai selalu identik dengan sosok laki-laki, namun ada satu perempuan yang menjadi seorang samurai legendaris. Tomoe Gozen pertama kali muncul dalam epik militer Jepang "The Tale of the Heike," serangkaian narasi tentang kehidupan dan pertempuran orang-orang yang bertempur dalam Perang Genpei pada abad ke-12, disusun dari cerita yang diturunkan secara lisan selama beberapa generasi sampai akhirnya pertama kali tercatat pada abad ke-14.
Menurut Japan Times, Gozen digambarkan sebagai pemanah terampil yang memperjuangkan Kiso Yoshinaka. Penampilannya secara umum digambarkan memakai baju besi berat dan membawa pedang besar dan busur besar, dan ketika Yoshinaka diserang dan terluka parah dia membelanya dengan keras, bertarung dengan samurai lainnya dan memenggal kepalanya.

5. Ana Nzinga
Sebuah cerita diterbitkan oleh Metropolitan Museum of Art tetang sosok Ana Nzinga yang menjadi Ratu Ndongo, sebuah negara Afrika di Angola yang sekarang berada di Angola, pada tahun 1624.
Saat itu di benua Afrika kerajaan-kerajaan Afrika sedang bersaing memperebutkan wilayah. Ana dengan cepat membentuk sebuah aliansi dengan Portugal untuk melindungi rakyatnya dari serangan-serangan dari kerajaan Afrika lainnya dan untuk mengakhiri serangan orang-orang Portugis di Ndongo terhadap para budak.
Ana harus melarikan diri ke barat dan tinggal di kerajaan Matamba karena akhirnya ia dikhianati oleh Portugis. Di sana, Ana menyambut para budak yang melarikan diri dan tentara Afrika untuk memperkuat tentaranya. Meskipun tidak lagi berada di Ndongo, dia mendukung usaha perlawanan di sana, dan mengenalkan organisasi milisi komunal di Matamba untuk membesarkan anak laki-laki selain keluarga mereka dan melatih mereka sebagai pejuang.
Ana terus melakukan perlawanan kepada Portugis yang menguasai Angola dengan bersekutu dengan Belanda dan mengembangkan perdagangan di Matamba, untuk bersaing dengan Portugal di perekonomian. Secara pribadi, Ana ikut bertempur dengan pasukannya sampai dia berusia 60an, hingga akhirnya ia melakukan perjanjian damai dengan Portugis pada tahun 1657 dan mengabdikan sisa hidupnya untuk membangun kembali negaranya yang dilanda perang.

6. Khutulun
Siapa bilang perempuan tak bisa menang dikompetisi gulat melawan kaum pria. Sebuah laporan dari Lapham's Quarterly menyebutkan pada abad ke-13 di Mongolia hidup seorang perempuan yang menguasai arena gulat. Namanya adalah Khutulun yang merupakan cicit dari Ghengis Khan.
Kehebatannya bukan hanya berada di atas arena gulat saja, ia juga dikisahkan sebagai penunggang kuda dan pemanah yang andal.
Dia pun diceritakan selalu ikut di medan perang, berjuang bersama ayahnya untuk membela daerah Mongolia barat dan Kazakhstan melawan Kubilai Khan, pemimpin Mongol yang berhasil menyerang China.

7. Mai Bhago
Mai Bhago merupakan prajurit Sikh Mata Bhag Kaur pada tahun 1705 ia memimpin 40 orang Sikh -mantan tentara yang membelot-selama Pertempuran Muktsar di Punjab, sebuah negara bagian di India utara. Mereka bertempur melawan tentara Kekaisaran Mughal, sebuah negara anggota pemerintahan dinasti Muslim yang membentang di India dan Afghanistan.
Disebutkan dalam situs web Sikh Heritage, Mai Bhago digambarkan berpakaian seperti seorang pria dan meninggal tahun 1708.

8. Rani Velu Nachiyar
Sekitar kurun waktu 1700 Inggris menjajah India kemudian muncul perempuan Tamil pertama yang mengangkat senjata melawan penjajahan Inggris di India yaitu Rani Velu Nachiyar. Ia tumbuh di Kerajaan Ramnad di India Selatan, di sana ia belajar menggunakan senjata, berlatih seni bela diri, menembak busur dan berkelahi saat menunggang kuda.
Setelah suami dan anak perempuannya terbunuh saat Inggris menyerang kerajannya tahun 1772, Nachiyar membentuk tentara untuk memerangi penjajah, mengalahkan mereka pada tahun 1780. Nachiyar dikatakan merupakan pemimpin militer pertama yang menggunakan "bom manusia" dalam peperangan.
Salah satu pengikut perempuannya mengaku telah memasukkan dirinya ke dalam minyak dan membakar dirinya sendiri untuk memicu ledakan di toko-toko amunisi Inggris.

9. Micaela Bastidas Puyucahua
Micaela Bastidas Puyucahua merupakan perempuan kelahiran Peru dan berasal dari suku Quechua, kelompok pribumi yang tinggal di wilayah Andes Tengah, Amerika Selatan yang tersebar dari Ekuador sampai Bolivia.
Seorang sejarawan, Charles F. Walker menulis dalam bukunya "The Tupac Amaru Rebellion". Pada tahun 1780, ia bersama suaminya Puyucahua memimpin pemberontakan melawan Spanyol.
Dalam pemberontakan tersebut, Puyucahua adalah "kepala logistik" yang merancang strategi militer untuk pertahanan kedua kubu pemberontak dan serangan terhadap pasukan Spanyol. Dia mengawasi jalannya kamp pemberontak, merekrut pejuang, memobilisasi tentara, dan membagikan hukuman kepada mereka yang menolak, bahkan secara pribadi melakukan eksekusi.

10. The Amazon Dahomey
Pada kurun waktu abad 17-19 masehi, terdapat sekelompok pasukan perempuan di negara bagian Dahomey, Afrika Barat yang sekarang dikenal sebagai Republik Benin.
Dilansir Smithsonian Magazine, ribuan tentara perempuan tersebut melayani raja sebagai pasukan tempur elit yang dipersenjatai dengan tongkat, pisau dan pisau cukur lurus sepanjang tiga kaki. Para misionaris dan tentara Eropa kontemporer menyebutnya sebagai pasukan "Amazon Dahomey" korps tentara ini diperkirakan berasal dari penjaga istana yang terdiri dari "istri kelas tiga" raja - orang-orang yang tidak dia tiduri, dan tidak melahirkan anak.
Keganasan mereka dalam pertempuran didokumentasikan dengan baik, dan mereka disegani dan dihormati sekaligus ditakuti oleh orang-orang mereka sendiri.

11. Yaa Asantewaa
Pada masa penjajahan bangsa Eropa di Afrika Barat pada awal abad ke-20 muncul sosok perempuan yang harus diperhitungkan tentang pengaruhnya bagi kemerdekaan bangsa Afrika.
Dilansir situs Yaa Asantewaa Museum, sosok itu adalah Yaa Asantewaa yang berasal dari keluarga suku Asante yang sekarang dikenal dengan negara Ghana.
Asantewaa adalah penjaga bangku emas yang merupakan simbol kekuatan penting bagi penguasa Asante. Pada tahun 1900, ketika gubernur kolonial Inggris Sir Frederick Hodgson menuntut agar dia menyerahkan bangku untuk dia duduki, Asantewaa menolak. Asantewaa meminta bangsa Asante untuk memberontak melawan Inggris, yang memimpin pemberontakan untuk kemerdekaan mereka, yang dikenal sebagai War of the Golden Stool.
"Jika Anda, orang-orang Asante, tidak akan maju, maka kami akan melakukannya, kami perempuan akan maju, saya akan memanggil sesama perempuan. Kami akan bertarung, kami akan berjuang sampai kita jatuh di medan perang," seruan Asantewaa seperti yang ditulis oleh Yaa Asatewa Museum.
Namun sayang, pemberontakan tersebut dikalahkan oleh Inggris, dan Asantewaa meninggal di pengasingan di Seychelles, pada tahun 1921.
