Meresapi Derita Rohingya dalam Potret Humans of New York

Wajah pria tua itu terlihat lelah. Sorot matanya menunjukkan kepasrahan atas apa yang akan terjadi pada dirinya. Matanya sekaligus menjadi saksi horor yang mengerikan yang menimpa kampung halamannya di Rakhine, Myanmar. Pakaiannya seadanya, mungkin cuma itu hartanya yang bisa diselamatkan.
Sedangkan dua bocah yang diapitnya di kanan dan kiri berbeda. Kendati kemelaratan dan kelaparan terus mendera, atau ketakutan akan pembunuhan terus mengintai, mata mereka masih ceria, mata yang mencari cara untuk berbuat nakal, namanya juga anak-anak.
Kiranya ini adalah potret yang tersaji dalam episode khusus Humans of New York (HONY) dalam akun Instagramnya. Pekan ini sang fotografer, Brandon Stanton, mengunjungi pengungsian ratusan ribu warga Rohingya di Cox's Bazar, Bangladesh.
Seperti lebih dari 4.400 foto lainnya, HONY kali ini juga tidak hanya menyajikan hasil fotografi yang apik, tapi juga kisah individu di baliknya. HONY memberikan pemahaman bahwa setiap individu itu unik, dengan problematika dan kekhasannya masing-masing.
Rohingya dalam potret HONY adalah sekumpulan masyarakat tertindas, terbantai, dan terusir dari rumah mereka. Sejak Agustus tahun lalu, 700 ribu Rohingya kabur dari kampung-kampung mereka yang terbakar, lari dari pembunuhan dan perkosaan oleh tentara Myanmar dan kelompok Buddha radikal.
"Mereka tidak mengatakan apa-apa. Mereka mulai menembak ke udara dan membakar rumah-rumah. Pembakaran dimulai dari sisi utara kampung kami, jadi kami lari ke selatan menuju hutan. Kami berjalan sepanjang malam dalam kegelapan," ujar pria tua itu dalam postingan HONY, Selasa (6/3).
Dua bocah lelaki dan perempuan yang diapitnya, ternyata dipungut pria tua itu di jalanan karena ibu mereka dibunuh. Pria tua itu melihat kedua bocah itu menangis sambil bersandar di pohon. Akhirnya dia memutuskan merawat keduanya bak anak sendiri.
"Saya rasa mereka lebih bahagia sekarang. Yang gadis sudah punya beberapa teman di kamp. Tapi dia masih suka bertanya soal ibunya," kata pria tua itu.
Per Kamis (8/3), sudah delapan foto Rohingya yang diunggah di HONY. Semuanya menggambarkan pilu, nyaris tanpa harapan. Betapa tidak, mereka akan dipindahkan dari Bangladesh dan tidak diterima di Myanmar, tanah kelahirannya. Ribuan komentar empati berdatangan untuk foto-foto tersebut.
Foto lainnya menampilkan pemuda Rohingya yang sama seperti pria tua itu, terusir dan dibantai anggota keluarganya.
Remaja itu beruntung bisa kabur dari amukan tentara. Pemandangan yang dilihat di desanya tidak akan pernah dia lupakan: pembunuhan dan perkosaan.
"Banyak sekali mayat. Beberapa dari mereka adalah sepupu saya. Saya melihat seorang gadis dari sekolah saya, tiga tentara berlutut di atas dia. Mereka menutupi mulutnya agar tidak teriak. Saya pusing, Saya tidak bisa berdiri," kata remaja Rohingya ini.
Dalam foto itu, remaja ini duduk di pematang sambil tersenyum. Tapi terkadang raut wajah tidak serta merta mewakili perasaan. Tidak ada yang tahu apa isi hati seseorang, HONY yang akan menceritakannya.
"Saya dulu bercita-cita untuk tumbuh dewasa dan membantu keluarga saya. Saya belajar dengan keras. Tapi sekarang saya bahkan tidak tahu mengapa saya masih ingin hidup di dunia ini," kata remaja itu lagi.
Stanton memulai proyek HONY pada 2010. Ketika itu fokusnya hanya orang-orang New York dan menyelami isi kepala mereka. Tapi siapa kira, proyek ini digemari dan menuai banyak pujian. Di Instagram followernya mencapai 7,7 juta orang dan di Facebook lebih dari 18 juta dari seluruh dunia.
Dalam perkembangannya, Stanton tidak hanya berkutat di New York tapi juga ke berbagai negara. Hampir 20 negara telah dikunjunginya. Beberapa bulan terakhir, Stanton berkunjung ke beberapa negara. Sebelum Bangladesh, dia memotret "manusia-manusia" di Jakarta dan Mumbai.
Di Bangladesh, Stanton menggalang dana untuk membantu pembangunan kamp pengungsian Rohingya.
"Rohingya adalah etnis minoritas yang dipersekusi, diusir dengan kekerasan dari Myanmar oleh para ektremis Buddha. Dalam setahun terakhir, hampir 700 ribu Rohingya terusir dari rumah mereka dan sekarang tinggal di kamp pengungsi di Bangladesh," tulis Stanton.
"Kami mengumpulkan dana untuk membangun rumah bambu murah untuk para pengungsi ini (sekarang mereka tinggal di tenda plastik)," lanjut dia.
