Meriam Oerlikon dan Rudal QW-3, 'Garda Terakhir' Penjaga Langit Yogyakarta
·waktu baca 3 menit

Batalyon Artileri Pertahanan Udara (Yon Arhanud) 21 Pasgat yang bermarkas di Depok, Kabupaten Sleman, memegang peran krusial sebagai titik terakhir pertahanan untuk mengamankan objek vital nasional.
Dalam menjalankan misi "perisai langit" ini, Yon Arhanud 21 Pasgat mengandalkan dua alat utama sistem persenjataan (alutsista) mumpuni: Meriam Oerlikon dan Rudal QW-3.
Pasi Ops Arhanud 21 Batalyon Pasgat, Kapten Tarju, menjelaskan bahwa kedua senjata ini merupakan tulang punggung dalam menghalau ancaman udara yang berhasil menembus zona luar pertahanan Indonesia.
“Ya itu, sebenarnya meriam sama rudal. Senjatanya pokoknya di situ. Meriam yang ada di untuk pertahanan Hanud (Pertahanan Udara) itu adalah Oerlikon. Nah itu dari produksi Swiss,” kata Kapten Tarju saat ditemui di Depok, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Rabu (11/2).
Mengenal Rudal QW-3: Si Pemburu
Dalam kegiatan Press Tour Media Dirgantara, Arhanud 21 memperlihatkan wujud Rudal QW-3. Sekilas, rudal ini tampak gahar dengan bentuk tabung panjang menyerupai pipa silinder lebih dari satu meter. Seluruh badannya dibalut warna hijau zaitun khas militer dengan komponen logam pengunci di bagian tengah.
Secara teknis, QW-3 adalah rudal panggul (MANPADS) yang dipasang pada dudukan penyangga kokoh. Keunggulan utamanya terletak pada sistem pencari panas (infrared) yang mampu mengunci sasaran secara presisi.
“Selama ini (QW-3) memang belum pernah digunakan dalam operasi perang. Tapi saat latihan, semua sasaran bisa kena,” ujar Tarju.
Kapten Tarju menambahkan, efektivitas rudal ini sudah teruji dalam berbagai skenario latihan. Sasaran simulasi seperti drone maupun flare berhasil dilumpuhkan berkat sistem sensor pencacah panasnya yang mampu mengejar target hingga jarak efektif enam kilometer.
Selain rudal, senjata "top tier" lainnya adalah Meriam Oerlikon. Meski tidak diperlihatkan secara langsung dalam pertemuan tersebut, meriam otomatis (autocannon) buatan Swiss ini merupakan salah satu sistem pertahanan udara jarak dekat (anti-pesawat) paling legendaris di dunia.
Kini dikembangkan oleh Rheinmetall Air Defence, Meriam Oerlikon memiliki laju tembak tinggi yang didesain untuk menghancurkan pesawat tempur, helikopter, hingga drone yang terbang rendah. Kehadiran Oerlikon di Sleman memastikan objek vital seperti Bandara YIA, Lanud Adisutjipto, hingga Gedung Agung memiliki perlindungan maksimal dari serangan udara mendadak.
Yon Arhanud 21 Pasgat merupakan satuan di bawah Resimen 2 Arhanud yang bertugas melindungi objek vital strategis di DIY. Dalam doktrin pertahanan udara, mereka bertindak sebagai lapis terakhir jika ancaman musuh sudah gagal dibendung oleh pesawat pencegat di area terminal.
Hingga saat ini, kondisi udara di Yogyakarta terpantau kondusif tanpa ada peristiwa luar biasa yang mengharuskan penindakan langsung. Namun bagi para prajurit Pasgat, kesiapsiagaan adalah harga mati.
Kapten Tarju menekankan pentingnya filosofi "siap perang di masa damai". Menurutnya, kekuatan militer yang tangguh adalah kunci agar kedaulatan negara tetap dihormati oleh bangsa lain.
“Suatu negara, dikala dia siap kekuatan militernya kuat, maka negara asing akan memperhitungkan. Tapi kalau kita negara kita lemah militernya, alutsistanya, maka kita akan mudah diserang oleh negara asing,” tegasnya.
