Mesir Serukan Kebebasan Berlayar di Laut Merah yang Kini Rawan Serangan Houthi

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Laut Merah. Foto: Ali Chehade Farhat/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Laut Merah. Foto: Ali Chehade Farhat/Shutterstock

Arab Saudi dan Mesir menyerukan kebebasan serta keamanan navigasi di Laut Merah dan jalur strategis Bab al-Mandab, sebuah selat yang jadi pintu masuk Laut Merah dari Samudera HIndia. Dilansir AFP, seruan itu disampaikan setelah kelompok Houthi menguasai seluruh pesisir Laut Merah Yaman hingga Selat Bab al-Mandab.

Seruan tersebut disampaikan Putra Mahkota sekaligus pemimpin de facto Arab Saudi Mohammed bin Salman saat bertemu Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi di Kairo, Selasa (15/9).

Kantor Kepresidenan Mesir menyebut keduanya membahas perkembangan terbaru konflik di Yaman.

"Bahwa kebebasan dan keamanan maritim di Selat Hormuz dan Bab al-Mandab adalah penting," kata statement bersama tersebut.

Sementara Presiden El-Sisi mendukung rencana Arab Saudi terkait langkah-langkah yang harus diambil.

"Untuk melindungi keamanan dan stabilitas kawasan," katanya.

Presiden Mesir Abdel Fattah El Sisi Foto: Hadi Mizban/AFP

Konflik Yaman yang Kembali Memanas

Konflik Yaman kembali memanas sejak Juli setelah perang saudara ini sempat mereda sejak 2022. Houthi yang didukung Iran menyatakan blokade maritim terhadap Arab Saudi dan mulai menargetkan kapal-kapal Saudi di Laut Merah.

Dalam serangan cepat pekan lalu, Houthi disebut berhasil menguasai seluruh garis pantai Laut Merah Yaman serta Bab al-Mandab. Selat tersebut menjadi jalur penting bagi ekspor minyak mentah Saudi setelah perang yang lebih luas di Timur Tengah mengganggu jalur melalui Selat Hormuz.

Gangguan di Bab al-Mandab juga berpotensi berdampak pada Mesir. Laut Merah merupakan pintu masuk menuju Terusan Suez, salah satu sumber pendapatan penting bagi pemerintah Mesir.

Konflik di Yaman. Foto: Reuters.

Pendapatan Terusan Suez saat ini disebut hanya sekitar separuh dibandingkan sebelum Houthi mulai menyerang kapal-kapal di Laut Merah pada 2023. Saat itu, Houthi menyatakan serangan dilakukan sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina dalam perang Israel-Hamas di Gaza.

Qatar pada Selasa juga memperingatkan dampak penutupan Bab al-Mandab. Doha menyebut penutupan jalur tersebut akan menjadi "bencana bagi dunia".

Saudi Hadapi Serangan Houthi

Arab Saudi juga masih menghadapi serangkaian serangan Houthi ke wilayahnya. Riyadh mengeluarkan peringatan serangan untuk sejumlah wilayah, termasuk Makkah, Jeddah, dan Taif, pada Selasa. Peringatan tersebut kemudian dicabut.

Pada Selasa malam, peringatan serupa dikeluarkan untuk Kota Abha, Khamis Mushait, dan Provinsi Jazan sebelum kembali dicabut.

Koalisi pimpinan Saudi yang memerangi Houthi menyatakan serangan rudal dan drone sehari sebelumnya melukai 13 warga sipil di tiga wilayah.

Pemberontak Houthi di Yaman. Foto: Mohammed Huwais/AFP

Houthi juga dilaporkan menargetkan infrastruktur minyak Saudi. Arab Saudi merupakan salah satu eksportir minyak mentah terbesar dunia. Serangkaian gangguan tersebut ikut mendorong harga minyak global menembus USD 100 per barel.

Koalisi pimpinan Saudi menyatakan akan merespons serangan tersebut secara tegas untuk melindungi kedaulatan negaranya.

"Semua langkah operasi sudah disiapkan untuk menangkal serangan lawan dan para ekstremis ini," demikian pernyataan koalisi Saudi.

Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, pada Selasa malam mengeklaim Saudi telah melancarkan 52 serangan udara ke Yaman dalam 24 jam terakhir. Ia menuduh serangan tersebut menyasar fasilitas sipil, termasuk sekolah dan jembatan.

Namun, serangan udara Saudi sejauh ini belum membalikkan sejumlah keuntungan teritorial yang diraih Houthi.

Seorang pejabat AS mengatakan kepada AFP bahwa satuan tugas militer AS tengah membantu meningkatkan pertukaran intelijen dan dukungan perencanaan bagi pasukan Saudi yang menghadapi serangan Houthi.

PBB memperkirakan kembalinya konflik telah menyebabkan sekitar 100 ribu orang mengungsi di dalam wilayah Yaman.

Perang Yaman bermula ketika Houthi merebut ibu kota Sanaa pada 2014. Setahun kemudian, Arab Saudi memimpin koalisi yang melakukan intervensi untuk mendukung pemerintah Yaman.

Warga berkumpul untuk berdemonstrasi mendukung Iran, setelah Israel dan AS melancarkan serangan terhadap Iran pada hari Sabtu, di Sanaa, Yaman, 1 Maret 2026. Foto: REUTERS/Khaled Abdullah

Houthi Janji Tingkatkan Serangan

Perwakilan biro politik Houthi, Hazem al-Assad, mengatakan serangan terhadap Saudi akan terus dilakukan selama Riyadh melanjutkan operasi militernya di Yaman.

"Kami akan terus merespons, dan mengeskalasi serangan selama mereka (Arab Saudi) terus melakukan agresi ke orang-orang kami," ucapnya.

Konflik Yaman kembali berlangsung ketika perang yang lebih luas di Timur Tengah masih menemui kebuntuan. Presiden AS Donald Trump pada Senin menyatakan terbuka untuk melakukan pembicaraan dengan Iran.

Namun, pejabat keamanan senior Iran Mohsen Rezaei menyatakan tidak akan ada negosiasi sampai persyaratan Iran dipenuhi.

Iran selama ini mendukung Houthi, yang menjadi bagian dari kelompok yang disebut Teheran sebagai "Poros Perlawanan" terhadap Israel. Dukungan tersebut mencakup persenjataan dan teknologi.

Meski demikian, Iran membantah terlibat dalam perang terbaru di Yaman. Para pakar juga masih memperdebatkan sejauh mana Teheran berperan dalam eskalasi konflik tersebut.