Meski Didemo Puluhan Ribu Warganya, Netanyahu Tetap Ngotot Ingin Kuasai Gaza
ยทwaktu baca 3 menit

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan akan mengumumkan rencana untuk menguasai Jalur Gaza sepenuhnya.
Laporan media Israel seperti i23NEWS, The Jerusalem Post, Channel 12, dan Ynet mengungkapkan keputusan Netanyahu ini akan mendorong militer Israel memperluas operasinya di seluruh Gaza, termasuk di wilayah-wilayah tempat sandera Hamas ditahan.
"Keputusan telah dibuat," kata kepala analis politik, Amit Sega, mengutip pejabat senior di lingkaran Netanyahu yang tidak disebutkan namanya saat diwawancara Channel 12, dikutip dari Al Jazeera, Selasa (5/8).
"Hamas tidak akan membebaskan lebih banyak sandera tanpa menyerah total, dan kami tidak akan menyerah. Jika kami tidak bertindak sekarang, para sandera akan mati kelaparan dan Gaza akan tetap di bawah kendali Hamas," katanya lagi.
Rencana ini mendapat kecaman dari Kementerian Luar Negeri Palestina. Kemlu Palestina menyerukan kepada komunitas internasional untuk segera melakukan intervensi demi mencegah implementasi rencana Israel, baik itu sebagai bentuk tekanan, uji coba untuk mengukur reaksi internasional, atau benar-benar serius.
Laporan ini muncul saat Netanyahu dijadwalkan mengadakan pertemuan kabinet untuk mendiskusikan langkah selanjutnya bagi militer Israel di Gaza.
Netanyahu: Kekalahan Hamas di Gaza Harus Tuntas supaya Sandera Dibebaskan
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan negaranya harus mengalahkan Hamas di Gaza untuk mengamankan pembebasan sandera yang masih ditahan.
"Kekalahan musuh di Gaza harus dituntaskan, semua sandera kami dibebaskan, dan untuk memastikan bahwa Gaza tidak lagi jadi ancaman bagi Israel," kata Netanyahu saat mengunjungi fasilitas pelatihan militer, dikutip dari AFP, Rabu (6/8).
600 Mantan Petinggi Keamanan Israel Minta Trump Desak Netanyahu Stop Perang Gaza
Lebih dari 600 mantan petinggi keamanan Israel mendesak Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang Israel di Gaza.
Dikutip dari Al Jazeera, Kamis (7/8), permintaan ini dibuat lewat surat yang dikirim ke Trump pada Minggu (3/8). Mereka yang menandatangani surat itu di antaranya mantan Kepala Mossad Tamir Pardo, mantan Kepala Shin Bet Ami Ayalon, dan mantan Wakil Kepala Staf militer (IDF) Matan Vilnai.
Mereka meminta agar PM Israel Benjamin Netanyahu didesak mengakhiri konflik yang berlangsung hampir 2 tahun dan telah memporak-porandakan Gaza.
"Semua yang bisa dicapai dengan kekerasan telah dicapai. Para sandera tidak bisa menunggu lebih lama lagi," kata kelompok Komandan Keamanan Israel (CIS) dalam sebuah unggahan di X.
Ribuan Orang Turun ke Jalan di Tel Aviv, Protes Rencana Israel Kuasai Gaza
Ribuan orang turun ke jalan di Tel Aviv pada Sabtu (9/8) waktu setempat untuk menyerukan penghentian perang di Gaza. Aksi ini digelar setelah pemerintah Israel menyatakan akan memperluas operasi militer dan merebut Kota Gaza.
Mengutip AFP pada Minggu (10/8), para demonstran membawa spanduk dan foto para sandera yang masih ditahan di wilayah Palestina. Mereka menuntut pemerintah Israel menjamin pembebasan para sandera.
"Kami akan mengakhiri dengan pesan langsung kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu: jika Anda menyerbu sebagian wilayah Gaza dan para sandera dibunuh, kami akan mengejar Anda di alun-alun kota, dalam kampanye pemilu, dan di setiap waktu dan tempat," ujar Shahar Mor Zahiro, kerabat seorang sandera yang terbunuh, kepada AFP.
Sebelumnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan akan melancarkan operasi untuk merebut Kota Gaza.
"Kami tidak ingin mempertahankannya. Kami ingin memiliki perimeter keamanan. Kami tidak ingin memerintahnya. Kami tidak ingin berada di sana sebagai badan pemerintahan," kata Netanyahu saat diwawancarai Fox News, dikutip Reuters, Kamis (8/8).
Meski menuai kritik dan memicu rumor adanya perbedaan pendapat di kalangan petinggi militer Israel, Netanyahu tetap teguh dengan rencana tersebut.
