Meski Dilarang, Ratusan Warga Thailand Tetap Gelar Demo Menentang Kerajaan

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Demonstran pro-demokrasi memberi hormat tiga jari sambil duduk di tanah selama protes massa anti-pemerintah Thailand. Foto: SOE ZEYA TUN/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Demonstran pro-demokrasi memberi hormat tiga jari sambil duduk di tanah selama protes massa anti-pemerintah Thailand. Foto: SOE ZEYA TUN/REUTERS

Ratusan demonstran turun ke jalanan Bangkok, Thailand, pada Kamis (15/10). Mereka tetap berdemo meski sudah ada larangan dari pemerintah.

"Bebaskan teman kami," teriak para demonstran seperti dikutip dari Reuters.

Seruan tersebut disampaikan terkait penahanan 40 aktivis demokrasi pada pekan ini. Penangkapan dilakukan demi meredam aksi antipemerintah yang menargetkan Raja Thailand Maha Vajiralongkorn dan PM Prayuth Chan-O-Cha.

Petugas polisi mengantre selama protes pada peringatan 47 tahun pemberontakan mahasiswa 1973, di Bangkok, Thailand. Foto: ATHIT PERAWONGMETHA/REUTERS

Aksi ratusan orang itu coba dibubarkan oleh polisi Thailand. Bukannya bubar, massa malah berpindah tempat salah satu distrik bisnis tersibuk di Thailand, Ratchaprasong. Sejak Rabu kemarin aksi massa terpusat di area gedung pemerintahan.

Kurang lebih tiga bulan, aksi antipemerintah dan kerajaan berlangsung di Thailand.

Massa prodemokrasi menuntut reformasi kerajaan dan pengunduran diri PM Prayuth.

embed from external kumparan
Ratu Thailand, Suthida Tidjai bersama Raja Thailand Maha Vajiralongkorn. Foto: REUTERS/Athit Perawognmetha

Aksi demo damai memanas ketika massa pro-demokrasi bentrok dengan polisi pada Rabu (15/10). Bentrokan pecah akibat polisi berupaya menghalangi massa yang mendekat ke arah iring-iringan kendaraan yang membawa Ratu Suthida.

Demi meredam demo, Pemerintah Thailand resmi melarang unjuk rasa dan pertemuan politik yang digelar lima orang lebih.

"Langkah ini dibutuhkan untuk memastikan perdamaian dan keamanan dan mencegah insiden setelah demonstran mengganggu iring-iringan kerajaan dan melanggar monarki dengan melontarkan kalimat provokatif," kata jubir pemerintah Thailand, Anucha Burapachaisri.