Meteor Hiasi Langit Bandung-Yogya: Ukuran Puluhan Cm, Jatuh di Samudra Hindia

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Meteor. Foto: Vadim Sadovski/shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Meteor. Foto: Vadim Sadovski/shutterstock

Fenomena bola api melintasi langit bikin heboh warga Bandung dan Yogyakarta. Peneliti senior Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bidang antariksa Prof Thomas Djamaluddin menjelaskan detail terkait fenomena ini.

"Kalau dari laporan CCTV di Bandung itu merekam pukul 22.55 WIB, di beberapa tempat lagi sekitar pukul 23.00 WIB. CCTV di Yogya pukul 23.15 WIB, artinya itu satu rangkaian," kata Thomas saat dihubungi kumparan, Jumat (15/9).

Fenomena tersebut sudah dipastikan meteor. Thomas menduga ukurannya tidak terlalu besar.

"Setelah saya periksa tidak ada sisa sampah antariksa yang jatuh pada waktu itu. Jadi itu disimpulkan meteor terang jenisnya meteor sporadis, batuan antariksa yang kebetulan juga berpapasan dengan bumi," ungkap dia.

"Karena itu tidak ada laporan gelombang kejut dugaan saya hanya sekitar puluhan sentimeter," sambung eks Kepala LAPAN itu.

instagram embed

Thomas memastikan yang melintas di Bandung dan DIY adalah benda langit yang sama. Sebab, jalur lintasannya serupa.

"Itu hanya 1 objek melintas, saya tidak tahu laporan dari sebelah barat Bandung ada atau tidak. Yang saya terima laporan CCTV yang terekam itu tadi. Jadi 1 rangkaian 1 objek," ungkapnya.

Ia memastikan meteor tersebut tidak jatuh di daratan Yogyakarta. Katanya, saat di langit Yogya, posisi meteornya masih tinggi.

Thomas Djamaluddin, Kepala LAPAN. Foto: Mulki Razqa

"Tidak ada laporan objek jatuh di darat. Dari lintasannya saja, terlihat di Yogya masih cukup tinggi. Dugaan saya tidak jatuh di sekitar Yogya kemudian prakiraan saya terus jatuhnya di Samudera Hindia," kata dia.

Jatuhnya meteor ini bersifat tak bisa diprakirakan. Sehingga ia bisa jatuh kapan saja.

"Itu hanya fenomena biasa di luar bumi masih bagian dari tata surya sewaktu waktu bisa berpapasan dengan bumi, kemudian masuk atmosfer dan tampak terbakar. Itu menunjukkan fenomena meteor. Kalau ukurannya besar itu bisa disebut bola api atau fireball. Kalau yang semalam itu bisa digolongkan fireball," urai dia.

"Kecepatannya umumnya, ini memang harus dihitung, tapi umumnya 70 km per detik. Makanya dari Bandung ke Yogya itu kan hanya dalam hitungan menit kan," tutupnya.