kumparan
9 Okt 2018 7:39 WIB

Miftahul Jannah, Didiskualifikasi namun Dipuji

Pejudo putri Indonesia Miftahul Jannah (tengah) berunding dengan perangkat pertandingan sebelum bertanding di kelas kelas 52 kg blind judo Asian Para Games 2018 di Jiexpo Kemayoran, Jakarta, Senin (8/10). (Foto: ANTARA FOTO/BOLA.COM/M Iqbal Ichsan)
Miftahul Jannah, atlet angkat besi kontingen Indonesia di Asian Para Games mesti rela gigit jari tak bisa mengejar medali. Miftah didiskualifikasi sebelum pertandingan lantaran tak mau membuka hijab yang dipakainya.
ADVERTISEMENT
Miftah dihadapkan pada dua pilihan, harus membuka hijab dan terus bertanding atau tetap mengenakan hijabnya namun didiskualifikasi. Atlet asal Aceh itu memilih pilihan yang kedua. Ia memilih untuk menjalankan keyakinannya memakai hijab dan tak meneruskan pertandingan.
“Miftah bilang bahwa dirinya sudah berjanji kepada Allah, untuk tidak membuka hijabnya. Sehingga dia lebih baik mengundurkan diri dari pada harus buka hijab,” kata Wakil Ketua KONI Aceh Alamsyah, dihubungi kumparan Senin (8/10).
Miftah yang telah berlatih selama sepuluh bulan lebih itu harus ikhlas tak bisa bertanding dan mengharumkan nama Indonesia. Sebagai pendamping, Alamsyah menyesalkan pelatih dan ofisial karena sehari sebelum bertanding tidak dikabari soal aturan bermain judo.
Ia menyesalkan, jika ada aturan atlet dilarang mengenakan hijab, maka dari jauh hari Miftah sudah memilih untuk tidak ikut. Alamsyah menuturkan dia dan Miftah memang tak mendapatkan penjelasan tentang aturan hijab di cabor judo.
ADVERTISEMENT
“Tidak menjelaskan apa-apa, dan itu hasil technical meeting dipaparkan bahwa judo tidak dibenarkan mengenakan hijab. Hasil technical meeting yang diikuti oleh tim ofisial Indonesia, memberitahukannya kemarin sore," ungkap Alamsyah.
"Namun yang disesali kenapa seorang pelatih dan ofisial tidak memberitahukan lebih awal. Jadi ada pelatih yang menyarankan Miftah buka jilbab, tapi dia tidak mau,” tambahnya.
Miftahul Jannah, atlet para judo Indonesia di Asian Para Games 2018 (Foto: ANTARA/BOLA.COM/M Iqbal Ichsan)
Alamsyah mengatakan, meski merasa sedih, saat ini Miftah sudah menerima atas keputusan juri. Miftah telah rela mengorbankan waktunya untuk berlatih selama 10 bulan lebih di pelatnas.
Miftah juga menyampaikan bahwa ini merupakan yang terakhir kalinya mengikuti ajang pertandingan judo. "Miftah menerima atas keputusan juri meski dia tetap merasa sedih. Cuma dia menyampaikan ini yang terakhir kalinya ia ikut judo," tutup Alamsyah.
ADVERTISEMENT
Pujian atas sikap Miftah kemudian muncul dari Wakil Bupati Aceh Barat Daya (Abdya), Muslizar MT. Ia mengaku kecewa atas peristiwa yang menimpa atlet asal Aceh tersebut.
Namun terleps dari Miftah yang tak bisa bertanding, Muslizar menganggap sikap Miftah sudah tepat. Miftah, kata Muslizar memilih untuk mempertahankan jati dirinya sebagai muslim ketimbang melepas hijab dan melanjutkan pertandingan.
“Meski kecewa kita tetapi memberikan apresiasi sikap Ananda Miftah. Sikap yang diambil sudah sangat tepat, jangan hanya karena untuk mengejar prestasi lalu menghilangkan jati diri,” ujarnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan