Mikroplastik Berisiko bagi Penderita Diabetes-Hipertensi, Diimbau Pakai Masker

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mikroplastik yang terkandung di air hujan Jakarta. Foto: Dok. BRIN
zoom-in-whitePerbesar
Mikroplastik yang terkandung di air hujan Jakarta. Foto: Dok. BRIN

Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta menyebut paparan mikroplastik di udara dapat menjadi risiko tambahan bagi masyarakat yang memiliki penyakit bawaan, seperti diabetes melitus (DM) dan hipertensi.

Hal ini disampaikan menyusul temuan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terkait adanya mikroplastik dalam air hujan di Jakarta.

Kepala Seksi Kesehatan Lingkungan P2P Dinkes Provinsi DKI Jakarta, dr. Rahmat Aji Pramono—biasa disapa Pramono, mengatakan mikroplastik yang terhirup atau tertelan bisa memicu gangguan kesehatan, terutama dalam jangka panjang.

“Terkait temuan adanya mikroplastik di udara, tentu hal ini perlu menjadi perhatian bersama karena ada efeknya terhadap kesehatan manusia,” ujar Pramono saat media briefing di Balai Kota, Gambir, Jakarta Pusat, Jumat (24/10).

Ia menjelaskan, mikroplastik bisa masuk ke dalam tubuh melalui udara yang dihirup, menyebabkan gangguan pernapasan ringan hingga peradangan pada saluran pernapasan.

“Ketika mikroplastik masuk melalui saluran pernapasan, partikel-partikel kecil ini dapat menyebabkan peradangan atau luka-luka kecil di sepanjang saluran tersebut. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa berkembang menjadi gangguan pernapasan kronis, seperti asma atau penyakit paru lainnya,” katanya.

Selain melalui udara, mikroplastik juga dapat masuk lewat makanan dan minuman yang terkontaminasi. Di saluran pencernaan, partikel plastik berukuran mikro dapat menimbulkan peradangan yang berlangsung lama.

Ilustrasi lalu lintas jalan raya saat hujan. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Pramono menambahkan, ukuran partikel menentukan tingkat risiko terhadap tubuh manusia.

“Jika ukurannya besar, mikroplastik cenderung hanya menimbulkan iritasi di saluran pernapasan atau pencernaan. Namun jika ukurannya sangat kecil (mikro atau nano), partikel ini bisa masuk hingga ke dalam peredaran darah manusia,” jelasnya.

“Dari sana, mikroplastik berpotensi menyebabkan luka pada pembuluh darah, bahkan di organ vital seperti jantung atau otak, yang pada akhirnya dapat memicu serangan jantung atau stroke,” sambungnya.

Menurutnya, keberadaan mikroplastik dapat memperparah kondisi kesehatan orang dengan penyakit bawaan.

“Dengan demikian, mikroplastik dapat menjadi faktor risiko tambahan bagi seseorang yang sudah memiliki penyakit bawaan, misalnya diabetes mellitus atau kebiasaan merokok,” ujar Pramono.

“Jika paparan mikroplastik ditambah dengan faktor-faktor tersebut, risiko terjadinya penyakit kardiovaskular bisa meningkat secara signifikan,” lanjutnya.

Kendati demikian, Pramono menegaskan masyarakat tidak perlu panik berlebihan ketika terkena air hujan yang mengandung mikroplastik.

“Sebenarnya sih enggak usah khawatir ya. Kalau kita kehujanan dengan adanya air hujan yang ada mikroplastik ini, tidak serta-merta membuat kita jadi sakit. Karena tubuh manusia ini punya sistem kekebalan yang baik,” kata Pramono.

“Begitu juga yang masuk ke dalam lewat saluran pernapasan, kita punya refleks batuk dan refleks bersin. Jadi ketika ada benda asing masuk, itu pasti kita punya refleks untuk batuk dan bersin,” imbuhnya.

Namun, ia menekankan pentingnya langkah pencegahan, terutama bagi masyarakat yang berisiko tinggi.

“Mikroplastik ini menjadi bagian dari faktor risiko terjadinya penyakit-penyakit lain ya, seperti penyakit jantung, stroke. Nah, sebenarnya kan jantung dan stroke itu faktor utamanya adalah diabetes melitus dan hipertensi,” jelas Pramono.

“Dengan adanya mikroplastik ini di dalam tubuh kita, ini jadi menjadi salah satu agen tambahan yang membuat risikonya menjadi lebih meningkat,” tambahnya.

Untuk mengurangi paparan mikroplastik, Pramono menyarankan masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, terutama saat polusi udara meningkat.

“Kalau lagi musim kemarau, polusinya lagi tinggi, kalau bisa keluar tuh pakai masker gitu. Kita juga bisa memantau ya kondisi polusi udara seperti apa, PM 2,5-nya lagi tinggi atau enggak. Karena di dalam PM 2,5 juga pasti ada mikroplastiknya,” katanya.

Selain itu, Pramono menekankan pentingnya menjaga kebersihan di dalam rumah, karena mikroplastik juga bisa berasal dari debu rumah tangga.

“Paling utama adalah pembersihan debu di dalam rumah. Karena memang berdasarkan penelitian, kita terpapar paling banyak mikroplastik itu adalah akibat debu di dalam rumah,” ujar Pramono.

“Itu yang harus kita bersihkan seperti itu. Dan yang paling rentan ya tadi, orang-orang yang dengan risiko penyakit DM dan hipertensi itu yang paling rentan untuk terjadinya penyakit-penyakit akibat mikroplastik ini,” pungkasnya.