Militer Israel Pakai Warga Sipil Gaza Jadi Tameng untuk Hindari Jebakan
·waktu baca 3 menit

Tentara Israel menggunakan warga sipil Palestina sebagai tameng untuk memasuki terowongan dan gedung di Gaza. Mereka menduga tempat-tempat tersebut telah dipasangi jebakan. Hal itu dilaporkan sebuah LSM dan surat kabar terkemuka Israel.
“Praktik tersebut sangat meluas di berbagai unit yang bertempur di Gaza sehingga dapat dianggap sebagai protokol,” kata Direktur Eksekutif Breaking the Silence—kelompok yang didirikan veteran tempur Israel untuk mendokumentasikan pelanggaran militer, Nadav Weiman, seperti dikutip dari Guardian.
Kelompok tersebut telah mengumpulkan kesaksian dari para veteran perang 10 bulan di Gaza. Keterangan yang mereka dengar cocok dengan yang dilaporkan dalam investigasi oleh surat kabar Haaretz, yang mengeklaim bahwa kantor kepala staf mengetahui praktik tersebut.
"Pangkat senior mengetahuinya," kata salah satu sumber kepada surat kabar tersebut.
Praktik itu rutin dilakukan, bahkan prajurit Israel memiliki julukan untuk perisai manusia, yaitu Shawish – bahasa gaul informal untuk prajurit berpangkat rendah.
Prosesnya kemudian dijelaskan oleh beberapa saksi.
Awalnya warga sipil Palestina, kebanyakan pria muda, dijemput oleh tentara Israel lalu diminta mengenakan seragam tentara Israel.
Kemudian mereka dikirim ke terowongan dan rumah-rumah yang rusak sebelum pasukan Israel datang, kata para prajurit kepada Haaretz dan Breaking the Silence.
Tangan mereka diikat dan badannya dipasangi kamera sebelum beroperasi.
“Orang-orang Palestina diberi tahu: ‘Lakukan satu misi di terowongan dan Anda bebas,’” Haaretz mengutip pernyataan seorang prajurit.
Lalu para pria itu dibebaskan untuk bergabung kembali dengan keluarga mereka.
Pada Juli lalu Al Jazeera menyiarkan rekaman warga sipil Palestina, termasuk beberapa berseragam IDF, yang dikirim masuk ke gedung-gedung hancur.
Breaking the Silence mengaku telah mendengar laporan tentang warga sipil yang digunakan sebagai perisai sejak tahap awal perang di Gaza.
Awalnya para prajurit mengira itu adalah arahan seorang komandan yang bertindak secara ilegal. Namun kesaksian mulai berdatangan dari para prajurit yang ditempatkan di seluruh wilayah tersebut.
“Kami mendengarnya dari berbagai unit, yang bertempur di berbagai waktu dan tempat di Gaza,” kata Weiman, seperti dikutip dari Guardian.
Menurut Weiman, banyak tentara yang menyuarakan kekhawatiran tentang praktik ilegal menurut hukum internasional dan Israel itu.
Pada 2005, Mahkamah Agung Israel telah melarang penggunaan warga Palestina sebagai tameng manusia.
Haaretz juga melaporkan perdebatan sengit, termasuk teriakan, antara tentara dan komandan yang memerintahkan penggunaan tameng manusia.
Menurut IDF, pihaknya melarang penggunaan tameng manusia. Mereka akan mengklarifikasi perintah kepada pasukan di lapangan dan meninjau ulang tuduhan yang dilaporkan Haaretz.
"Perintah dan arahan IDF melarang penggunaan warga sipil Gaza yang ditangkap di lapangan untuk misi militer yang membahayakan mereka," ungkap seorang jubir IDF.
Laporan ini muncul setelah militer Israel berulang kali membenarkan serangan terhadap area sipil, termasuk sekolah dan rumah sakit, sambil menuduh Hamas menggunakan orang-orang di dalamnya sebagai perisai manusia.
“Bagaimana kita bisa mengatakan hal semacam itu setelah mereka melakukan ini, setelah mereka menjadikan warga Palestina sebagai perisai manusia?” kata Weiman.
