Militer Myanmar Putus Internet, Kerahkan Tentara untuk Redam Demonstrasi

Junta militer Myanmar mengerahkan tentara ke seluruh negara. Militer Negeri Seribu Pagoda turut memutus jaringan internet.
Tindakan itu dilakukan untuk meredam demo antikudeta yang sudah terjadi hampir sepekan. Unjuk rasa menolak pemerintahan semakin membesar meski sudah ada ancaman tindakan tegas dari pemerintah jika massa tetap turun ke jalan.
Informasi Kelompok memonitor jaringan internet NetBlocks, jaringan internet di seluruh negara hampir seluruhnya offline pada Minggu (14/2/2021) malam.
Baru pada Senin (16/2/2021), jaringan internet di kota Yangon sudah kembali hidup.
Sementara itu, beberapa pasukan militer tambahan bahkan sudah nampak sejak Minggu (14/2/2021) malam. Mereka dikerahkan di sejumlah titik penting di kota terbesar Yangon.
Gambar yang tersebar di beberapa sosial media memperlihatkan tentara dalam jumlah besar berserta kendaraan militer berjaga di berbagai titik.
Pada Senin (15/2/2021), meski ada pemutusan internet dan pengerahan tentara, massa tetap menggelar demo. Salah satu titik unjuk rasa di dekat gedung bank sentral.
Semakin memburuknya kondisi Myanmar mengundang perhatian dari Dubes negara-negara Barat seperti Inggris, Amerika Serikat hingga Uni Eropa di Myanmar. Para diplomat tersebut sepakat meminta militer tidak melukai warga sipil.
"Kami serukan kepada petugas keamanan menahan diri menggunakan kekerasan terhadap demonstran, yang memprotes penggulingan pemerintah sah," kata mereka seperti dikutip dari AFP.
Kudeta di Myanmar berlangsung pada 1 Februari 2021. Saat itu militer yang tak terima kekalahan partai diusungnya pada pemilu, menggulingkan pemerintahan sipil pimpinan Aung San Suu Kyi.
Usai kudeta, militer memberlakukan situasi darurat selama satu tahun lamanya.
