Militer Myanmar Serbu Kantor Partai Pimpinan Aung San Suu Kyi

Militer Myanmar menyerbu markas besar Partai Liga Nasional untuk Demokasi (NLD) di Yangon pada Selasa (9/2) malam.
Penyerbuan kantor partai pimpinan Aung San Suu Kyi tersebut terjadi usai ratusan ribu orang turun ke jalan dalam beberapa hari terakhir menolak kudeta militer. Demo terakhir pada Selasa (9/2) berujung ricuh.
"Diktator militer menyerbu dan menghancurkan markas NLD sekitar pukul 21:30," tulis NLD mengumumkan di halaman Facebook-nya seperti dikutip dari AFP.
Meski demikian, NLD tak memberikan penjelasan lebih lanjut apakah ada petinggi partai lain yang ditangkap dalam penyerbuan tersebut.
Adapun penyerbuan terjadi setelah demo di berbagai kota menolak kudeta militer berlangsung selama 4 hari berturut-turut.
Untuk membubarkan massa, polisi menggunakan water cannon, menembakkan peluru karet, dan gas air mata.
Demo tetap terjadi meskipun ada peringatan dari pihak militer bahwa mereka akan mengambil tindakan terhadap demonstran yang mengancam "stabilitas" dan larangan pertemuan lebih dari 5 orang.
Di Naypyidaw, ibu kota terpencil yang dibangun khusus oleh rezim militer sebelumnya, saksi mata mengatakan polisi menembakkan proyektil ke arah pengunjuk rasa setelah sebelumnya menyemprot water cannon.
"Mereka melepaskan tembakan peringatan 2 kali, kemudian mereka menembak (ke arah pengunjuk rasa) dengan peluru karet," kata seorang warga.
Seorang dokter di ruang gawat darurat mengatakan militer juga menggunakan peluru tajam yang membuat seorang pria berusia 23 tahun dan 19 tahun dirawat dalam kondisi kritis di rumah sakit.
"Kami tidak mengoperasi luka mereka karena mereka bisa langsung mati - kami yakin 100 persen mereka akan mati jika dioperasi - itulah mengapa kami mengawasi kondisi mereka dengan merawat mereka secara medis." kata dokter itu.
Sementara ayah salah satu korban mengatakan putranya telah ditembak "ketika mencoba menggunakan megafon untuk meminta orang-orang melakukan protes secara damai setelah polisi menggunakan water cannon untuk membubarkan mereka."
"Dia ditembak di belakang ... Saya sangat khawatir tentang dia," kata ayah berusia a 56 tahun itu.
Sedangkan di Mandalay, kota terbesar kedua di Myanmar, polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan pengunjuk rasa.
Seorang saksi mata mengaku telah memberi perlindungan kepada sekitar 20 pengunjuk rasa dengan memberikan air, handuk, dan masker kepada mereka.
PBB pun menyatakan keprihatinan atas kekerasan tersebut.
"Penggunaan kekuatan yang tidak proporsional terhadap para demonstran tidak dapat diterima," kata Koordinator Penduduk dan Kemanusiaan PBB di Myanmar, Ola Almgren.
